Foto Iluatrasi PPDB (Sumber Tribunnews.com)

CILEGON, SSC – Jumlah peserta Penerimaan Siswa Didik Baru (PPDB) untuk tingkat SMP sederajat pada tahun pelajaran pelajaran 2019-2020 hampir dipastikan melebihi kuota yang tersedia. Kuota yang melebihi kapasitas ini kebanyakan didominasi di sekolah-sekolah yang ada di wilayah perkotaan.

Kepala Bidang SMP pada Dinas Pendidikan Kota Cilegon, Suhendi mengatakan, jumlah lulusan atau tamatan Sekolah Dasar (SD) sederajat di Cilegon tercatat ada sebanyak kurang lebih 4.700 siswa. Bila diperbandingkan dengan kuota yang ada di SMP atau sebanyak 2.336 siswa, kata dia, jumlah yang mendaftar jauh lebih banyak dari daya tampung 11 SMP negeri yang ada.

Dari analisa hari terakhir pendaftaran, Rabu (20/6/2019), kecenderungan jumlah pendaftar yang melebihi kapasitas sekolah itu ada di sekolah-sekolah wilayah perkotaan. Satu diantaranya di SMP Negeri 1 yang ada di pusat kota dimana kuota yang tersedia sebanyak 224 siswa namun yang mendaftar lebih dari 400 peserta.

“Kalau yang mendaftar sekarang kecenderungannya memang benar lebih banyak mendaftar di perkotaan. Malah yang di sekolah pinggiran kurang peminat. Tidak membludak seperti di kota. Misalnya saja SMP 1, kuotanya kan hanya ada 7 kelas dikali 32 peserta. Saat ini ada 400 lebih peserta yang mendaftar di sekolah itu,” ujarnya dikonfirmasi.

Kecenderungan ini lebih karena tingginya minat masyarakat terhadap sekolah di perkotaan yang masih di cap sebagai sekolah favorit. Padahal saat ini pemerintah sudah meniadakannya dengan menerapkan kebijakan 3 jalur PPDB. Penyeragaman pendidikan sekolah diatur secara merata, baik lewat jalur zonasi, prestasi dan perpindahan orangtua sebagaimana diatur dalam Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang PPDB.

“Kelihatannya masih seperti itu, padahal sekarang ini tidak ada lagi namanya sekolah unggulan. Sekarang ini kan sistemnya yang saya dengar dari Menteri Pendidikan, sistem sekarang dilakukan merata, makanya diambil zonasi ini. Diambil peserta dengan sekolah yang terdekat,” tuturnya.

Selama pendaftaran, diakui pihaknya masih ada sekolah yang melebihi kapasitas tampung tetapi ada juga yang sebaliknya. Kuota sekolah seperti di SMPN 10, Kelurahan Suralaya justru belum terpenuhi.

“SMP Negeri 10 masih kurang. Artinya, belum terpenuhi kuotanya. Sekalian mungkin kalau ada yang mau di SMP 10, masih kosong. Kurang lebih kuota yang masih ada 32,” tuturnya.

Ia masih berkoordinasi dengan Kepala Dindik Cilegon, Muhtar Gojali terkait kebijakan bisa atau tidaknya perpanjangan di SMPN 10 dilaksanakan. Hal itu ditempuh supaya kuota yang masih ada terisi penuh.

“Di permendikbud, (perpanjangan) itu ada. Batasan waktunya sampai memenuhi kuota, hanya saja teknisnya tidak online lagi. Tapi ini masih di diskusikan dengan pimpinan. Perpanjangan atau bagaimana, masih di diskusikan dahulu, supaya tidak menyalahi aturan,” pungkasnya. (Ronald/Red)

Komnetar anda tentang berita diatas?