
CILEGON, SSC – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Cilegon mengadakan diskusi bulanan di Rumah Wartawan Kota Cilegon. Hari ini, Kamis (20/8/2026), PWI Cilegon diskusi terkait program Beasiswa Cilegon Juare dengan melibatkan Pemkot Cilegon. Diskusi tersebut menjadi langkah awal PWI Cilegon untuk menjadikan forum tersebut sebagai agenda rutin yang terbuka bagi wartawan maupun masyarakat umum.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua PWI Kota Cilegon, Ahmad Fauzi Chan dan Asisten Daerah I Kota Cilegon Mahmudin sebagai pembicara.
Ketua PWI Cilegon, Ahmad Fauzi Chan mengatakan kegiatan diskusi tersebut mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kota Cilegon.
“Diskusi ini yang perdana dan alhamdulillah ternyata disambut dengan luar biasa oleh Asisten Daerah Kota Cilegon, Pak Mahmudin,” ujar Fauzi.
Fauzi menuturkan, keterlibatan Asda I Cilegon dalam diskusi perdana menjadi momentum penting untuk memperkaya pembahasan, khususnya mengenai program Beasiswa Juare yang berkaitan dengan akses pendidikan bagi masyarakat Cilegon.
Pria disapa Ichan menuturkan, kegiatan diskusi tersebut tidak hanya ditujukan untuk kalangan wartawan. PWI Cilegon membuka ruang bagi masyarakat umum untuk mengikuti dan terlibat dalam forum diskusi tersebut.
“Jadi, kita diskusi ini insya Allah rutin, Pak, dengan berbagai tema dan berbagai isu,”jelasnya.
Ia menjelaskan, forum tersebut akan dilaksanakan secara berkelanjutan dengan mengangkat tema yang berbeda sesuai dengan isu aktual dan kebutuhan masyarakat.
Selain menjadi ruang diskusi, kegiatan tersebut diharapkan dapat mempertemukan insan pers dengan berbagai pemangku kepentingan di Kota Cilegon. Dengan demikian, informasi yang diperoleh masyarakat dapat semakin komprehensif dan berimbang.
“Ini merupakan acara umum, gitu ya, yang dihadiri oleh umum, di luar wartawan,” tuturnya.
Dikatakan Ichan, keterbukaan forum menjadi salah satu upaya PWI Cilegon untuk membangun komunikasi yang lebih luas dengan masyarakat. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang diharapkan dapat memperkaya perspektif dalam setiap pembahasan.
Dengan adanya diskusi rutin tersebut, PWI Cilegon ingin memperkuat peran organisasi kewartawanan sebagai ruang pertukaran informasi sekaligus mendorong lahirnya gagasan yang konstruktif bagi pembangunan Kota Cilegon.
Sementara, Asda I Cilegon Mahmudin menyampaikan berbagai informasi dan pandangan mengenai program Beasiswa Juare, termasuk pentingnya dukungan terhadap peningkatan akses pendidikan bagi masyarakat.
Program Beasiswa Cilegon Juare dinilai tidak hanya membantu masyarakat melanjutkan pendidikan, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan memperbesar peluang kerja bagi lulusan.
Mantan inspektur Kota Cilegon itu mengatakan, Pemkot Cilegon memiliki komitmen kuat untuk memastikan tidak ada anak di Kota Cilegon yang terpaksa menghentikan pendidikan karena kendala biaya.
“Pemerintah Kota Cilegon mempunyai komitmen, komitmen yang sangat luar biasa, tidak ada anak Cilegon yang putus sekolah karena biaya,” tutur Mahmudin.
Mahmudin menerangkan, pengalokasian anggaran dari APBD untuk program beasiswa merupakan bagian dari upaya pemerintah memberikan akses pendidikan yang lebih luas kepada masyarakat, khususnya mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi.
“Satu filosofi kenapa Pemerintah Kota Cilegon menggelontorkan uang dari APBD untuk memberikan beasiswa kepada masyarakat Cilegon,” ungkap Mahmudin.
Ia menyebut, minat masyarakat untuk mengikuti program beasiswa Cilegon Juare terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal itu menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap dukungan pembiayaan pendidikan.
“Dari tahun ke tahun pemohon untuk mendapatkan beasiswa ini langsung meningkat terus,” paparnya.
Program Cilegon Juare, lanjutnya, tidak semata-mata dipandang sebagai bantuan pendidikan, melainkan investasi pemerintah dalam membangun kualitas SDM Kota Cilegon untuk jangka panjang.
“Kemudian yang terpenting adalah bahwa dengan diberikannya beasiswa Cilegon Juare, ini sebuah investasi jangka panjang terkait dengan SDM Pemerintah Kota Cilegon,” beber Mahmudin.
Menurut Mahmudin, hasil dari investasi pendidikan tidak dapat dirasakan secara instan. Peningkatan kualitas SDM membutuhkan proses panjang, sehingga keberlanjutan program tersebut menjadi penting untuk memastikan kualitas masyarakat terus meningkat.
“Investasi SDM itu barang mahal, dan hasilnya tidak bisa dipetik dalam kurun waktu 1, 2, 3 tahun. Pasti lama, tetapi ini harus dilakukan agar ya SDM Kota Cilegon secara kualitas bisa terus naik,” terang Mahmudin.
Selain meningkatkan kualitas SDM, program beasiswa tersebut juga dinilai memberikan kontribusi terhadap peningkatan IPM Kota Cilegon, terutama melalui indikator pendidikan.
“Dampak terhadap IPM, itu yang jelas menaikkan Harapan Lama Sekolah. Masyarakat Cilegon yang tadinya 12 tahun maka lama sekolahnya akan bertambah,” kata Mahmudin.
Ia menjelaskan, beasiswa tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi setelah menyelesaikan pendidikan SMA maupun madrasah.
“Masyarakat yang kurang mampu itu bisa didorong untuk kuliah, untuk sekolah setelah SMA atau madrasah ke jenjang yang lebih tinggi,” terangnya.
Pemkot Cilegon dalam menjalankan program tersebut juga memperkuat konsep beasiswa dengan pendekatan link and match antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. Kebijakan tersebut disesuaikan dengan karakteristik Cilegon sebagai salah satu kawasan industri.
“Sekarang dipertajam dengan beasiswa Cilegon Juare yang link and match, link and match didasari oleh bahwa Kota Cilegon adalah kota industri,” jelasnya.
Pada tahun ini, kata Mahmudin terdapat sekitar 700 peserta didik yang diterima sebagai calon penerima beasiswa Cilegon Juare.
Sebagian penerima diarahkan pada bidang pendidikan yang memiliki keterkaitan dengan kebutuhan industri di Kota Cilegon.
“Tahun ini kita menerima kurang lebih 700 peserta didik calon penerima beasiswa, dan sebagian di antaranya berorientasi kerja di perusahaan seperti Chandra Asri, Lotte, Posco, dan lainnya,” terangnya.
Dengan pendekatan tersebut, program Cilegon Juare diharapkan tidak hanya meningkatkan angka partisipasi pendidikan masyarakat, tetapi juga menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia industri.
Upaya menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja juga dinilai penting untuk memperbesar peluang lulusan mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan. Dengan demikian, manfaat program beasiswa dapat dirasakan secara lebih luas, baik dalam peningkatan kualitas pendidikan maupun penguatan daya saing tenaga kerja lokal. (Ronald/Red)




