Satgas Mafia Tanah Polda Banten mengekspos kepada media terkait kasus pemalsuan ratusan surat tanah saat di Mapolda Banten, Rabu (29/9/2021). Foto Ronald/Selatsunda.com

SERANG, SSC – Seorang warga di Kelurahan Drangong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang inisial RMT (63) ditangkap Satuan Petugas (Satgas) Mafia Tanah Polda Banten. Pelaku yang merupakan wiraswasta ini ditangkap diduga melakukan tidak pidana pemalsuan ratusan surat tanah di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Cipocok.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Banten, Kombes pol Ade Rahmat mengatakan, terbongkarnya kasus tersebut berawal dari adanya 5 laporan masyarakat pada 2019, 2020 dan 2021. Satgas kemudian melakukan penyelidikan laporan para pelapor tersebut yang saling terkait dengan obyek 824 Akta Jual Beli (AJB) tanah di wilayah Kelurahan Banjarsari seluas 100 hektar.

Dalam penyelidikan yang dilakukan satgas dengan membandingkan bukti otentik pelapor ditemukan pelaku melakukan pemalsuan surat tanah dengan memberikan keterangan palsu. Pemalsuan itu ternyata sudah dilakukan pelaku sejak 2007 lalu kala lahan yang menjadi obyek perkara dibebaskan pada 1995.

“Pada tahun 2007, banyak modus yang digunakan pelaku dengan cara memberikan keterangan palsu dalam bukti otentik,” ujar Dirkrimum Ade saat mengekspos perkara kepada media di Mapolda Banten, Rabu (29/9/2021).

Baca juga  Buruh di Cilegon Geruduk Kantor Walikota, Tuntut UMK 2022 Naik 10 Persen

Dalam menjalankan aksi, pelaku melakukan modus menaikan status tanah menjadi sertifikat dari status AJB dengan melibatkan masyarakat yang seolah-olah menjadi pemilik tanah/ahli waris. Dalam aksi itu, pelaku memalsukan seluruh dokumen yang terkait dengan tanda tangan, sidik jari dan kepemilikan tanah.

“Pelaku menyuruh seseorang mengaku sebagai pemilik lahan, kita sudah periksa para saksi yang disuruh sebagai pemilik lahan, namun dia (saksi) tidak memiliki. Bahkan ada pemilik lahan merasa tidak pernah menjual tidak pernah menandatangani, tapi ada tanda tangannya. Bahkan ada sidik jarinya tidak sesuai, menggunakan sidik jari orang lain,” tuturnya.

Dalam penetapan pelaku sebagai tersangka, satgas telah mengantongi sejumlah alat bukti. Mulai dari 100 akta jual beli, dokumen peta bidang tanah dan sejumlah keterangan saksi baik saksi di lapangan, notaris, korban dan tersangka sendiri.

Baca juga  Pemkot Cilegon Gelontorkan Rp 2,3 Miliar Bangun 4 Palang Pintu

Sejauh ini, kata Ade, pihaknya masih mendalami terkait keterlibatan pihak lain. Kasus masih terus dilakukan pengembangan.

“Apabila masih ada oknum tersangka lainnya,baik mungkin ada keterlibatan aparat Kelurahan saat itu, yang membantu tersangka sehingga timbul dokumen palsu, kita sedang mendalami dan terus melakukan pengembangan,” paparnya.

Sementara itu, Kabid Humas Poda Banten AKBP Shinto Silitonga menambahkan, pelaku dalam kasus tersebut dipersangkakan dengan pasal berlapis. Pelaku dikenakan Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat dan menggunakan surat palsu seolah-olah surat itu asli. Pelaku juga dijerat Pasal 266 KUHP diduga memasukan keterangan palsu ke dalam akte otentik dan Pasal 385 KUHP tentang penggelapan hak atas benda tidak bergerak.

“Ancaman pidana terhadap tersangka minimal 6 tahun penjara,” terangnya.

Shinto mengimbau agar masyarakat yang merasa telah menjadi korban dalam kasus RMT dapat melaporkan ke Polda Banten. (Ronald/Red)