SERANG, SSC – Setahun silam, tepatnya pada 22 Desember 2018 lalu, peristiwa Bencana Tsunami Selat Sunda melanda sejumlah daerah pesisir di Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang dengan menewaskan ratusan warga. Diantara korban yang selamat saat ini masih ada yang tinggal di hunian sematara (huntara).
Sedikitnya ada puluhan warga di Kecamatan Sumur masih tinggal di hunian bantuan pemerintah itu akibat rumah mereka rata dengan tanah di hantam tsunami. Mereka hidup dengan kondisi serba terbatas. Warga terpaksa hidup di bangunan sederhana dengan luas 4,5 meter x 4,5 meter dan beratap seng.
Salah seroang warga Kecamatan Sumur, Jamal (35) yang menjadi korban tsunami mengaku pasrah menempati huntara bersama keluarganya. Dia tak berdaya mau membangun kembali rumahnya yang rata dengan tanah karena tak memiliki uang yang cukup.
“saya tinggal di huntara pasca tsunami, karena rumah saya rata dengan tanah. Kalo malam dingin, kalau siang panas, karena atapnya dari seng. Mau membangun rumah lagi nggak punya uang. Kalau yang lain ada beberapa masih sudah bisa bangun kembali rumah, karena punya uang. Sekarang sisia 96 keluarga, huntara ada 220,” ujarnya, Jumat (20/12/2019).

Hingga kini Jamal menganggur karena kehilangan mata pencariannya, sebelumnya iya membuka warung sembako, namun setelah peristiwa tersebut hilang karena bencana.
“usaha berenti, rumah rata dengan tanah. Sekarang tidak ada perkejaan dan usaha. Karena harta benda kena tsunami. Adanya bantuan untuk nelayan, bantuan untu usaha tidak ada. Sebenarnya banyak juga yang seperti saya usahanya hilang karena bencana dan sekarang menganggur. Jangan kan mau bangun rumah, mau memulai usaha saja sulit, karena tidak ada modal” ungkapnya.
Hingga saat ini, kata dia, rumah hunian tetap (Huntap) yang dijanjikan pemerintah tak kunjung ada. Dia berharap, rumah hunian tetap bisa terbangun namun hal itu hanya sebatas rencana saja.
“Sampai sekarang belum ada rumah hunian tetap, baru rencana. Kami sangat berharap pemerintah segera membangun huntap. Kan ada surat relokasi tapi tanah warga masih milik warga (dilokasi sebelumnya), Kata Bu lurah, cuman ga boleh tinggal untuk usaha boleh,” terangnya.
Jamal masih menyimpan duka mendalam meski telah setahun Tsunami Selat Sunda berlalu. Dia dan warga lainnya masih berharap bantuan dari pemerintah untuk membuka lembaran baru. (Ronald/Red)

