CILEGON, SSC – Ketua DPRD Kota Cilegon, Rizki Khairul Ichwan buka suara terkait maraknya kasus keracunan yang terjadi akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa daerah di Indonesia.
Rizki menyatakan, adanya kejadian keracunan MBG di beberapa daerah menjadi peringatan keras daerah. Hal itu juga menjadi atensi yang dibahas serius pada Rapat Forkopimda, Beberapa waktu lalu.
Kata Rizki, adanya kejadian itu menjadi bahan evaluasi bagi SPPG di Kota Cilegon.
“Kemarin hasil rapat Forkopimda itu kita melakukan penekanan dan mengingatkan kepada yayasan, SPPG yang memang mereka merupakan penyedia untuk melaksanakan MBG tersebut,” ujar Rizki, Kamis (2/10/2025).
Rizki menyebutkan terdapat beberapa penekanan yang perlu secara serius diperhatikan oleh SPPG. Pihaknya menyoroti komitmen dari pelaku yang menfasilitasi program MBG.
Kemudian hal lain yang menjadi penekanan yakni SPPG harus memastikan bahan untuk program MBG, higenis. Di mana makanan harus terjaga kelayakannya mulai dari bahan, pencucian hingga penyajiannya.
“Pertama kita menekankan adanya komitmen secara serius dari pelaku yang mefasilitasi MBG. Kedua dari higenis, alur pendistribusian hingga teknis pencucian hingga proses memasak logistik di dapurnya masing-masing,” ungkapnya.
“Itulah mengapa, supaya tidak muncul ruang-ruang atau potens-potensi akan menimbulkan makanan jadi tidak layak,” sambungnya.
Rizki juga menyoroti terkait alur pendistribusian MBG. Menurutnya, pendistribusian MBG harus tepat waktu. Jangan sampai waktu pendistribusian begitu lama sehingga menurunkan kualitas makanan.
“Dari proses alur pendistribusian kalau bisa tepat waktunya sehingga tidak membuka ruang bakteri masuk ke dalam makanan,” ungkapnya.
Kemudian kebersihan wadah penyajian atau food tray juga menjadi krusial. Karena bersentuhan langsung dengan MBG yang akan didistribusikan.
“Kemudian dalam proses pencucuian, ketika food tray-nya itu ketika sampai ke dapur kembali, itu harus sesuai dengan SOP pencucian. Jangan sampai, takutnya meninggalkan bakteri yang tersisa bakteri dari sekolah,” paparnya.
Rizki juga menyinggung pentingnya pemilihan bahan menu MBG. Hal itu ditekankannya agar SPPG tidak memilih bahan-bahan yang cepat basi atau rusak. Misalnya, pemilihan menu bahan baku ayam.
Menurutnya, pengolahan ayam potong dan ayam beku berbeda. Ia menyarankan jika memilih ayam beku maka yang diproses dibawah minus 40 derajat. Sementara ayam potong, jika proses dimasak langsung dan tidak matang khawatir masih terdapat bakteri.
“Kita menyarankan ayam beku, yang diproses dibawah minus 40 derajat. Kalau ayam potong dimasak langsung, takutnya timbul bakteri salmonella. Sehingga membuat perut menjadi keracunan, ada gejala mules,” papar Rizki seraya menyarankan jika terdapat menu pelengkap susu maka dapat memilih susu UHT ketimbang susu pasteurisasi karena proses pencernaan dari anak-anak penerima manfaat, berbeda-beda.
Meski di beberapa daerah terdapat kejadian keracunan, namun kata Rizki, pelaksanaan MBG di Kota Cilegon berjalan aman dan lancar. Walaupun begitu, namun perlu dilakukan pembenahan.
Untuk memastikan MBG, kata Rizki, pihaknya akan melakukan inspeksi ke beberapa SPPG di Cilegon. Ia pun mendorong agar OPD khususnya Dindik dan Dinkes dapat mensosialisasikan masukan terkait MBG dalam Rapat Forkopimda kepada sekolah-sekolah. Ia meminta Dinas Perindag agar dapat juga memperhatikan pemilihan vendor baik vendor sayuran dan lainnya.
“Sejauh ini sudah baik tetapi secara faktual di lapangan, perlu ada pembenahan-pembenahan terutama dinas terkait. Terutama mensosialisasikan kepada guru-guru, dari dinas kesehatan harus mengecek ke masing-masing dapur bekerja sama dengan inatansi terkait,” pungkasnya. (Adv)

