CILEGON, SSC – Warga Cilurah, Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan menggeluhkan hujan debu hitam yang masuk ke rumah mereka. Kejadian hujan debu ini sudah terjadi seminggu lalu.

Wadga Cilurah, Sutihat mengaku cukup resah dengan hujan debu hitam yang keluar dari cerobong asap dari pabrik tersebut. Sebab, dengan hujan debu ini dianggap cukup berbahaya dan menganggu ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas).

“Kejadian ini sudah seminggu terjadi. Tapi sampai sekarang belum ada tindaklanjut atau perhatian dari industi. Harus sering-sering nyapu lantai. Kayanya dari PT Indofero,” kata Sutihat kepada awak media,” Jumat (27/11/2020).

Senada dengan Sutihat, warga lain, Armaya juga mendesak agar dinas terkait untuk menindaklanjuti hujan batu yang terjadi di wilayah Kepuh. Serta meminta pihak perusahan untuk bertanggung jawab dengan terjadinya hujan debu tersebut.

“Kurang lebih disini ada 300 ratus rumah yang terdampak debu ini, kalau masyarakat kecil mah tahu-nya gini-gini doang (dihujani debu-red) kalau masalah tindaklanjutnya enggak tahu,” pungkasnya.

Terpisah, Lurah Kepuh Mas’ud Syah mengungkapkan, hujan debu yang dialami warga Cilurah berasal dari alat pemanas yang berada di PT Indocoke Industry yang berada di belakang permukiman penduduk. Dengan kejadian ini, ia akan membantu para warga untuk mendesak pihak perusahan untuk bertanggung jawab.

“Perusahaannya Indocoke, pokoknya lagi dipersiapkan untuk mempertemukan ke masyarakat agar pihak perusahan bertanggung jawab atas kejadian ini,” ujarnya.

Ia memastikan, bahwa hujan debu batubara disebabkan oleh aktivitas operasional pabrik PT Indocoke Industry.

“Tapi yang jelas pihak perusahaan (PT Indocoke-red) sudah merespon tuh, berarti secara inikan berarti dari situ yang dari Indocoke,” jelasnya.

Kata Mas’ud Syah, lingkungan Cilurah yang paling parah terdampak hujan debu yang disebabkan oleh PT Indocoke.

“Imbas terparahnya di lingkungan Cilurah. Saya janji persoalan ini akan selesai. Tapi, sampai sekarang saya belum terima laporan pengaduan dari warga akan kejadian ini. Harusnya ada pemberitahuan dulu, apakah melalui keluarahan atau RT sehingga masyarakat enggak kaget,” pungkasnya. (Ully)