Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah saat menyampaikan paparanya kepada awak media dalam acara Taklimat Media High Level Meeting Ketahakan Pangan dan Elektronifikasi Keuangan Daerah Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang yang digelar di Hotel di Anyer, Kabupaten Serang,” Selasa (22/6/2021). Foto : Elfrida Ully/Selatsunda.com

SERANG, SSC – Penyebaran pademi Covid-19 yang telah terjadi selama 1,5 tahun ini berdampak cukup nyata pada ditutupnya industri di Banten. Dari data yang dimiliki Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Serang, sebanyak 8 perusahaan gulung tikar dimana dampaknya 11.148 karyawan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan 12.114 karyawan dirumahkan.

Demikian disampaikan Bupati Kabupaten Serang, Ratu Tatu Chasanah dalam acara Taklimat Media High Level Meeting Ketahanan Pangan dan Elektronifikasi Keuangan Daerah Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang yang digelar di Hotel di Anyer, Kabupaten Serang,” Selasa (22/6/2021).

“Sebelum adanya Covid-19, perusahannya sudah goyang. Sehingga ketika ada Covid, mereka semakin terdampak dan terpaksa tutup‎. Mereka bergerak di bidang usaha pembuatan paku, listrik, travo dan mebel,” ujar Tatu.

Baca juga  Bahas RPJMD 2021-2026, Pansus DPRD Cilegon Temukan Banyak Penyusunan Program Menyimpang Permendagri

Bupati Tatu menyatakan, pihaknya dalam menangani permasalah tersebut telah berkoordinasi dengan pemilik perusahaan/industri. Di mana Pemkab diminta bisa membantu memberi keringanan-keringanan agar usaha yang dijalankan tetap bisa bertahan.

“Dari koordinasi ini, para industri dan perusahaan meminta bantuan Pemkab Serang untuk melakukan relaksasi pajak, meminta pembayaran kenaikan ditangguhkan, meringankan pembayaran listrik dan pembayaran jaminan kesehatan dan tenaga kerja,” ujarnya.

Politisi Partai Golkar ini menyatakan kondisi ini tidak hanya terjadi di wilayah Kabupaten Serang saja. Tetapi juga di alami di berbagai daerah di Indonesia. Saat ini perusahaan lain yang terpuruk masih bertahan.

“Industri kita tidak ditutup, yang ada ini kalau tidak salah ada sembilan perusahaan sudah tutup, yang lain itu sebetulnya dalam keadaan tidak sehat,” terangnya.

Baca juga  Wali Murid SDN di Cilegon Keluhkan Pembelian Buku Paket Ditengah Pandemi

Dia memastikan, karyawan yang terkena PHK tersebut sebagian besar sudah mendapat haknya.

“Hak-haknya sudah diselesaikan. Ada yang kesepakatan. Sudah semuanya dibayar, enggak ada masalah. Cuma yang enggak lapor, saya enggak tahu,” pungkasnya. (Ully/Red)