Salah soerang warga berada di dekat saluran pembuangan limbah di area Panca Puri tepatnya di perbatasan area pabrik PT Chandra Asri Petrochrmical dan PT SRI, Lingkungan Cilodan, Kelurahan Gunung Sugih, Kecamatan Ciwandan, Cilegon, Senin (10/9/2018). Beberapa hari lalu, diketahui dua hewan kerbau milik warga mati, diduga meminum air limbah dari saluran itu. Foto Ronald/Selatsunda.com

CILEGON,  SSC – Dua ekor hewan kerbau yang di pelihara oleh warga di Lingkungan Cilodan, Kelurahan Gunung Sugih, Kecamatan Ciwandan, Cilegon, mati mengenaskan. Matinya hewan kerbau itu di duga setelah meminum air limbah yang ada di saluran pembuangan kawasan Panca Puri tak jauh dari pemukiman warga.

Berdasarkan penelusuran selatsunda.com di lapangan, kasus kematian dua hewan kerbau milik warga bernama Bakri dan Abu ini terjadi sekitar empat hari lalu. Saat itu, hewan ternak warga ini tengah berada di saluran pembuangan limbah di Kawasan Industri Panca Puri.  Hewan ternak ini mati di duga meminum air limbah beracun di lokasi tersebut yang mana disinyalir sebagai tempat limbah industri PT Chandra Asri Petrochemical (PT CAP) dan PT Synthetic Rubber Indonesia (PT SRI), dibuang.

“Hewan kerbau itu mati di kawasan panca puri. Kita menduga, kalau itu dari limbah. Karena, akses masuk industri itu dari belakang. Memang ada air dari industri, gak tau apakah itu dari industri PT SRI atau Chandra Asri, kita ngga tahu. Cuman mungkin kerbau itu masuk, ada air di kubangan, (minum air limbah) terus mati di situ,” ungkap Ketua RT Setempat, Saefullah saat di konfirmasi langsung di lokasi, Senin (10/9/2018).

Salah satu hewan kerbau milik warga mati di kubangan, tempat air limbah industri di buang tak jauh dari pemukiman, Lingkungan Cilodan, Kelurahan Gunung Sugih, Kecamatan Ciwandan, Cilegon, beberapa hari lalu. Foto Ist

Ia menduga, matinya hewan ternak ini setelah meminum air di saluran pembuangan limbah.  Dimana lokasinya tak jauh dari batas area antara Pabrik Chandra Asri dan PT SRI.

“Ada dua dugaan versi, karena lokasinya dari  PT SRI dan juga berdekatan dengan Chandra Asri. Kita tidak bisa menyimpulkan yang mana. PT SRI ini kita tahu baru (uji coba) pengetesan dan gagal-gagal, yang saya tahu seperti itu,” paparnya

Hewan ternak yang mati, diceritakan Saefullah, bukan baru pertama kali terjadi. Informasi yang diterima Ketua RT ini jauh sebelum kejadian kerbau mati,  hewan ternak bebek milik warga lain juga dikabarkan mati.

“Selama ini gak ada apa-apa. Cuman baru kali ini saja mati dua ekor hewan ternak. Sebelum ada kerbau meninggal, kata anak dari Pak Bakri, ada bebek yang juga yang meninggal,” tandasnya.

Upaya untuk menyelesaikan masalah itu telah dilakukan warga dengan berbagai pihak baik PT Panca Puri, PT CAP maupun PT SRI. Dalam mediasi yang dilakukan hari ini, pihak Panca Puri bersedia untuk mengganti rugi.

“Kita sudah memanggil dari pihak industri, Jumat kemarin. Waktu itu musrawarah kecil yang datang hanya Pak Pomy dari Panca Puri, tetapi belum ada respon lagi.  Hari ini kita kumpul lagi, ada Pak Harrun, Pak Ali dan Pak Pomi, membahas hewan ternak yang mati. Kami diskusi juga dengan pemilik hewan kerbau Pak Bakri dan Pak Abu. Dari Industri sudah sepakat mengganti rugi,” paparnya.

Ia meminta agar masalah tersebut tidak hanya sebatas berakhir pada ganti rugi saja.  Namun warga meminta agar saluran kali sepanjang kurang lebih 2 kilometer itu dapat dipagari oleh Panca Puri selaku pengembang kawasan Industri. Bilamana tidak dikhawatirkan dampak limbah berimbas ke pemukiman warga.

“Tentu kita khawatir. Kalau hujan, air hujan biasanya meluap bercampur dengan (limbah) itu,” terangnya.

Sementara salah seorang warga di RT 15,  Setyo Nugroho (46) juga membenarkan adanya kejadian itu. Beberapa hari belakangan, kata Setyo yang lokasi rumahnya tak jauh dari saluran limbah ini, beberapa pihak dari PT CAP, PT SRI dan Panca Puri mengambil sampel air terkait kematian kerbau milik warga.

“Ada sebulan lalu kerbau mati. Minggu kemarin kejadian lagi. Beberapa hari ini,  banyak orang yang ngambil sampel air ini,” terangnya.

Ia bahkan juga menyayangkan, tembok penahan tanah (TPT) saluran pembuangan limbah tidak mendapat perhatian perusahaan. TPT justru dibangun swadaya oleh masyarakat.

“Ini (TPT) malah warga yang bangun.  Karena kalau hujan meluap,” urainya.

Sementara, Pelaksana Seksi Ekonomi dan Pembangunan di Kelurahan Gunung Sugih, Budi hartono turut membenarkan adanya kejadian tersebut. Pihak Panca Puri, Kata Budi, telah bersedia untuk mengganti rugi hanya saja warga masih khawatir. Kepada pengembang, sambungnya, warga meminta  lokasi pembuangan limbah dapat dipagari supaya warga aman ketika berkativitas.

“Kerbau kan sudah diganti, Kemudian pemilik juga tidak ada masalah dan sudah ada solusi. Kemudian kita minta ke Panca Puri, saluran air tidak ditembok. Kalau bisa dipasang plang agar hewan ternak tidak masuk ke area itu,” terangnya. (Ronald/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here