20.1 C
New York
Kamis, April 23, 2026
BerandaPeristiwaPuluhan Perupa Seni Gelar Pameran 'Wedang Uwuh', Kritik Kondisi Alam di Banten

Puluhan Perupa Seni Gelar Pameran ‘Wedang Uwuh’, Kritik Kondisi Alam di Banten

-

LEBAK, SSC – Puluhan Perupa Seni di Banten mengkritisi kondisi alam di Banten yang kian memprihatinkan melalui Pameran Seni yang digelar di pekarangan pohon jati, Teater Guriang, Warung Gunung, Kabupaten Lebak.

Penyelenggara, Yudi Noviansyah, mengatakan, pameran lukisan dan instalasi bertajuk ‘Wedang Uwuh’ ini digelar berangkat dari tergugahnya para seniman terhadap alam di Banten yang semakin rusak. Para perupa merespon kondisi alam seperti hutan yang rusak, gunung terkikis dan satwa yang mulai punah.

Menurutnya, saat ini kondisi alam sudah semakin rusak apalagi jika bertambahnya populasi manusia di bumi. Maka akan bertambah pula kebutuhan dan kepentingan manusia, baik secara pribadi ataupun secara kelompok.

“Secara disengaja atau tidak untuk mencapai itu (kepentingan), alam akan dieksploitasi dan terjadi degradasi (kemunduran). Kerusakan alam ini, bisa jadi perubahan atau gangguan terhadap alam (lingkungan),” katanya kepada Selatsunda.com ditemui usai pembukaan pameran, Minggu (21/3/221) malam.

Yudi menyampaikan, persoalan kerusakan alam bisa menjadi ketegangan antara manusia dan lingkungan disekitarnya. Maka dari itu, para seniman mencoba merespon kondisi saat ini dengan goresan cat, membuat instalasi, dan karya lainnya.

“Seni rupa menangkapnya dan direspon lewat karya, memberikan penyadaran. Berbagai teknik dan aliran seni rupa berupaya memperlakukan alam sebagai kontrol hidup manusia hari ini,” tuturnya.

Pameran yang digelar selama satu minggu dari tanggal 20 hingga 27 Maret ini melibatkan 24 perupa seni. Pameran selain mengkritisi alam juga mengangkat kondisi lain seperti kecelakaan pesawat, Omnibus Law, dan kebudayaan di tengah pandemi Covid-19.

Dia berharap, karya-karya yang dipamerkan  dapat memberikan banyak manfaat selayaknya minuman rempah wedang uwuh.

“Dari hal kecil wedang uwuh menjadi harapan besar ditengah pandemi dalam menjaga kesehatan. Harapan besar ditengah sempitnya kesempatan hidup manusia ditengah ancaman bencana,” harapnya.

Sementara, salah satu Kurator pameran, Firman Venayaksa, menuturkan bahwa karya seni memang tidak bisa menyelesaikan persoalan. Menurutnya, perupa bisa mengguratkan kritik lingkungan dalam bentuk karya seni namun tidak bisa menghentikan realita kerusakan alam yang terjadi.

Dengan pameran inilah, para seniman terus berkarya. Di mana ruang kebebasan para perupa seni bisa dipamerkan dalam bentuk visual.

“Satu hal yang pasti bahwa sesampah-sampahnya seniman, selalu berusaha untuk mengasah hati nurani melalui kepekaan emosional dan spiritual yang kadang sulit dijangkau akal,” tegasnya. (SSC-03/Red)

Redaksi Selatsunda
Redaksi Selatsundahttps://selatsunda.com
Sajian informasi dikemas dengan tulisan berita yang independen