Petugas Bea Cukai mengabadikan foto sesaat setelah melakukan operasi barang diduga rokok tanpa cukai di salah satu rumah makan di Lingkungan Gerem Raya, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, Kamis (5/9/2021) malam. Foto Ronald Siagian/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Petugas Bea Cukai mengamankan sejumlah kardus paket yang diduga berisi barang rokok illegal saat di Rumah Makan Kaffei, Lingkungan Gerem Raya, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon. Kejadian berlangsung pada Kamis (9/9/2021) sekitar pukul 23.10 WIB.

Pantauan Selatsunda.com di lokasi, petugas saat operasi menggunakan 2 kendaraan warna putih dan abu-abu. Tampak, kendaraan berwarna abu-abu pakir di depan rumah makan tepat dibelakang deretan bus yang tengah terparkir untuk mengistirahatkan penumpang. Sementara kendaraan berwarna putih berada di seberang jalan. Petugas yang diperkirakan berjumlah 6 orang menggunakan baju bertuliskan Custom ini terlihat melakukan pemeriksaan.

Tampak, beberapa petugas sekitar 15 menit kemudian memindahkan kendaraan warna abu-abu ke seberang rumah makan.  Tak lama, petugas mengangkut sejumlah kardus ke bak kendaraan. Di rumah makan itu, terlihat seorang petugas tengah meminta keterangan dari sopir bus. Usai memeriksa, petugas beranjak ke kendaraan. Petugas sebelum meninggalkan lokasi tampak mengabadikan foto dengan barang bukti yang diamankan.

Petugas Bea Cukai tengah mengangkut kardus barang diduga rokok tanpa cukai

Wartawan coba mengkonfirmasi kepada pemilik Rumah Makan Kaffei terkait kejadian tersebut. Pemilik rumah makan, Ramadan Harahap tak menampik petugas mengamankan barang diduga rokok tanpa cukai dari sebuah bus.

“Mereka tadi razia rokok di bus. Rokok yang nggak ada cukai. Kurang lebih (petugas) 6 orang. Angkut kira-kira 10 dusan lah dari Bus Pentoh,” ujar Ramadan.

Baca juga  Lapas Cilegon Butuh Bantuan Pemkot  Pasarkan Hasil Karya Narapidana

Ramadan menceritakan, aksi petugas berlangsung cukup lama sekitar 1,5 jam. Saat itu, sopir bus yang mengangkut barang sempat diminta keterangan.

“Tadi minta tandatangan (sopir) saja, buat pengambilan bukti barang. Kan sopir juga tidak mau disalahkan. Yang punya barang bisa saja nanti nuntut kan,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, operasi yang dilakukan petugas Bea Cukai sudah sering terjadi di tempat usahanya. Namun lantaran sering dia malah mengeluh. Operasi oleh petugas membuat usahanya menjadi terganggu.

Terkadang saat operasi, petugas tidak meminta izin dengan baik-baik kepada dia selaku pemilik rumah makan.

“Pernah dia (petugas) bongkar muatan bus, kandang-kadang nggak izin sama kita. Dia bilang, dia petugas, petugas Bea Cukai. Saya bilang, bapak memang petugas, tapi saya pemilik usaha disini, punya wilayah disini, izin dulu,” ujarnya.

Lanjut Ramadan, tidak hanya menggangu usahanya tetapi operasi terkadang membuat penumpang bus tidak nyaman. Penumpang yang semestinya makan dan beristirahat tenang malah nonton aksi operasi petugas. Ia juga mengeluh, petugas dalam operasi juga parkir kendaraan sembarangan yang terkesan tidak menghargai tempat usahanya.

Baca juga  KPU Cilegon Tindak Lanjuti PAW Anggota DPRD Meninggal Dunia

“Maksud saya kan, biar penumpang turun dulu, istirahat dulu, biar sopir istirahat dulu. Kan begitu. Terus dia, kalau parkir mobilnya, itu dibenerin. Jangan bus pas lagi markir masuk, dia parkir main palang aja. Kita saling menghargai lah. Polisi saja nggak gitu-gitu amat,” terangnya.

“Rugikan kita lah pak. Kayak (operasi) tadi, bongkar barang, bus lain mau masuk (terganggu). Terus itu jadi tontonan penumpang, akhirnya ngehalangi bus yang mau masuk,” sambungnya.

Ramandan mengungkapkan pada dasarnya dirinya mendukung operasi yang dilakukan petugas Bea Cukai memberantas rokok tanpa cukai, minuman illegal dan barang illegal lainnya. Hanya saja, dalam operasi jangan sampai menganggu usahanya dan bisa saling menghargai.

“Saya dasarnya menghargai petugas, karena itu kan bea cukai, itu kan cukai rokok yach. Saya mendukung karena itu kan untuk pajak. Cuman teknis mereka, cara kerjanya yang agak mengganggu ke kita lah. Tugas mereka kan, ambil rokok, minuman yang tidak ada cukainya, artinya tidak ada pemasukan ke pemerintah. Kami mendukung yang mereka lakukan,” pungkasnya.

Sementara, Kepala Kantor KPPBC Madya Pabean Merak, Beni Novri coba dikonfirmasi melalui pesan whatsApp terkait operasi tersebut belum merespon saat dihubungi. (Ronald/Red)