Para murid menyalami guru di salah satu SD di Kota Cilegon saat hari pertama masuk sekolah. (Foto Dokumentasi)

CILEGON, SSC – Angka anak putus sekolah di Kota Cilegon terbilang tinggi. Sedikitnya pada 2019 tercatat ada 156 anak usia sekolah SD/MI dinyatakan putus sekolah. Pemerintah Kota Cilegon dalam menindaklanjutinya perlu mengambil langkah konkret untuk mengatasi tingginya angka putus sekolah di Kota penghasil baja tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Kota Cilegon, Ismatullah tak menampik angka putus sekolah yang tinggi di Cilegon. Berdasarkan data yang dimiliki Dindik Kota Cilegon, untuk tingkat SD jumlah anak yang putus sekolah sebanyak 83 anak dan SMP sebanyak 73 anak.

“Dari 8 kecamatan di Kota Cilegon, untuk tingkat SD penyumbang terbesar anak putus sekolah ada di Kecamatan Jombang sebesar 30 anak dan untuk tingkat SMP berada di Kecamatan Pulomerak sebesar 20 anak,” kata Ismatullah saat ditemui di Kantor Walikota Cilegon, Senin (13/1/2020).

Ismatullah menambahkan, jumlah anak putus sekolah ini tersebar di 8 Kecamatan di Kota Cilegon. Yaitu, tingkat SD di Cibeber sebanyak 7 anak dan SMP 14 anak. Kecamatan Cilegon di tingkat SD 4 anak dan SMP 4 anak. Kecamatan Citangkil tingkat SD 9 dan SMP 3, Kecamatan Ciwandan tingkat SD 5 dan tingkat SMP 3.

Selanjutnya, Kecamatan Grogol tingkat SD 6 dan tingkat SMP 18, Kecamatan Jombang tingkat SD 30 dan tingkat SMP 9, Kecamatan Pulomerak tingkat SD 15 dan tingkat SMP 20 dan Kecamatan Purwakarta tingkat SD 7 anak dan SMP 2 anak.

Ia menjelaskan, jika dilihat dari Indeks rata-rata harapan sekolah, semestinya anak harus mengenyam pendidikan selama 13,13 persen atau hingga Diploma 1. Namun, kenyataanya, untuk di Kota Cilegon lama sekolah yang hanya sekitar 9,73 persen. Target ini jauh lebih dari angka lama sekolah yang diharapkan oleh pemerintah.

“Oleh karena itu, anak putus sekolah di Cilegon tinggi,” jelasnya.

Atas kondisi ini, sambung Istmatullah, pihaknya akan menaikkan kembali waktu rata-rata lama sekolah dengan menyekolahkan kembali para anak yang putus sekolah.

“Solusi yang kita (Dindik Cilegon) lakukan untuk menaikan anak tidak putus sekolah dengan mendata mereka untuk mengikuti ujian paket A dan paket B. Contohnya, jika mereka tidak sekolah di tingkat SD maka akan mengikuti paket A sedangkan untuk tingkat SMP akan mengikuti paket B,” paparnya. (Ully/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here