20.1 C
New York
Kamis, Juli 2, 2026
BerandaHukrimCekcok Karena Sakit Hati, Murid di Baros Tusuk Guru Seni Beladirinya Hingga...

Cekcok Karena Sakit Hati, Murid di Baros Tusuk Guru Seni Beladirinya Hingga Tewas

-

SERANG, SSC – Misnan (40), warga Desa Sidamukti, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang tersangkut kasus pembunuhan terhadap Ato Supanta (60) yang merupakan guru seni beladirinya. Pelaku diduga membunuh korban karena sakit hati dengan ucapan korban.

Kasus pembunuhan tersebut terjadi pada 15 Januari 2021. Pembunuhan terjadi saat pelaku mendatangani rumah korban. Saat bertemu keduanya sempat cekcok mulut. Pelaku kemudian naik pitam dan menusuk korban dengan sebilah pisau. Sebelum membunuh, pelaku sempat memukul korban di kepala dengan sebatang kayu. Hingga akhirnya korban di tusuk di uluhatinya hingga tersungkur.

“Saat itu, pelaku mendatangi rumah korban. Disitu cekcok mulut kemudian pelaku menusuk korban dengan sebilah pisau,” ujar
Kasatreskrim Polres Serang Kota, AKP M Nandar saat menggelar dua kasus perkara pembunuhan di Mapolres, Senin (1/3/2021).

Pasca kejadian, kasus tersebut dilaporkan ke Polres Serang Kota. Petugas kemudian melakukan penelusuran terhadap pelaku yang diketahui kabur ke beberapa kota di wilayah Sumatera. Jejak pelaku terendus petugas berada di Kepulauan Riau lalu diringkus.

“Pelaku kita amankan di Kepulauan Riau Sekupang. Jadi, tim kami berhasil mengamankan pelaku saat tidur di masjid tanpa berlawanan dan pelaku kooperatif,” tandasnya.

Kata Kasatreskrim, motif dalam kasus pembunuhan tersebut diduga dilakukan pelaku terhadap korban karena dendam atau sakit hati. Di mana korban merupakan guru ilmu beladiri pelaku.

“Karena cekcok dan kesal. Karena hubungan pelaku dan korban, murid dan pelaku. Jadi korban ini mantan gurunya. Pelaku dulunya di plonco, itu dasar-(motif pembunuhan)-nya,” tandasnya.

Atas perbuatannya, kata Kasatreskrim, pelaku dijerat Pasal 340 Junto 338 UU KUHP tentang pembunuhan berencana dan diancam penjara seumur hidup.

Sementara itu, pelaku mengaku telah mengenal korban sejak 1992 silam. Ia berkilah jika pembunuhan terjadi diawali oleh niatnya. Korban, bela pelaku, menyerang lebih dahulu kemudian dibunuhnya.

“Dia yang menyerang duluan, dia yang mau bunuh saya. Dia yang sakit hati bukan saya yang sakit hati,” ujarnya.

Pelaku kembali berkilah biasa membawa pisau untuk pekerjaan mengambil kelapa di hutan. Pisau yang dibawa bukan di rencanakannya untuk membunuh.

“Tiap hari saya bawa pisau tapi bukan untuk membunuh orang,” kilahnya. (Ronald/Red)

Redaksi Selatsunda
Redaksi Selatsundahttps://selatsunda.com
Sajian informasi dikemas dengan tulisan berita yang independen
- Advertisment -DEWAN 2