Personel tanggap bencana darurat industri mengevakuasi warga yang menjadi korban pada Gempa dan Tsunami di Cilegon. Evakuasi ini masuk sebagai bagian skenario yang diperagakan pada Event Ardex 2018 di Kiec Cilegon, Kamis (8/11/2018). Foto Elfrida Ully/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Gempa bumi 8,7 skala richter menguncang Kota Cilegon. Tak lama kemudian pesisir pantai juga diterjang tsunami dengan ketinggian diatas 5 meter. Bencana itu pun mengakibatkan cairan pabrik kimia yang ada disekitar meledak. Warga yang mendapati kejadian itu tampak terlihat langsung lari berhamburan keluar rumah dan menyelematkan diri. Puluhan ribu warga pada bencana ini diketahui jatuh korban hingga meninggal dunia. Situasi ini pun tak mampu ditangani oleh perangkat-perangkat penyelamatan daerah, mengingat dampak dari bencana alam dan bencana industri yang terjadi betul-betul parah.

Bala bantuan pun berdatangan, satu persatu personel baik dari Indonesia bahkan negara ASEAN turun ke Cilegon. Sedikitnya terdapat 10 negara tetangga menurunkan personel membantu para korban yang selamat dan mengevakuasi korban tewas. Peralatan cangih turut diterjunkan menangani bencana alam dan industri ini.

Demikian terungkap dalam skenario peragaan Simulasi penanganan bencana kedaruratan event ASEAN Regional Disaster Emergency Response Simulation Exercise (Ardex) yang digelar di Kawasan Industri Estate Cilegon (KIEC) Kota Cilegon pada, Kamis (8/11/2018) pagi tadi.

Direktur Perbaikan Darurat pada BPBD Medi Herlianto mengatakan, simulasi dilakukan sebagai upaya mempersiapkan Cilegon khususnya Indonesia dalam menghadapi penanganan bencana dasyat. Sebab, Cilegon yang berada di wilayah Provinsi Banten merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang sangat berpotensi gempa sekitar 8,7 SR. Banten di wilayah selatan berpotensi juga terkena tsunami dengan ketinggian gelombang laut mencapai 5 meter. Dampak ikutannya juga diperkirakan melanda Cilegon hingga mencapai 2-4 meter.

“Kita tahu, tingkat kerawanan bencana di Kota Cilegon sangat besar bahkan berpotensi menelan ratusan bahkan ribuan warga Cilegon dengan adanya kejadian ini. Bahkan, di Cilegon pun hamper 99 persen memiliki pabrik kimia yang sangat berbahaya. Oleh karena itu, perlu adanya penaganan lebih dini apabila memang benar-benar terjadi,” kata Medi kepada wartawan usai simulasi.

Ia mengungkapkan, dalam persoalan musibah seperti ini, Indonesia sampai saat ini belum mengetahui bagaimana dengan persisnya menangani bencana jika terjadi seperti yang diperagakan. Bahkan alat pendeteksi bencana juga masih belum menggunakan peralatan berteknologi canggih.

“Kalau dibandingkan dengan negaa ASEAN lainnya, Indonesia masih belum memiliki teknologi canggih dalam mendeteksi bencana. Oleh karena itu, sangat penting dilakukan kegiatan Simulasi ASEAN Regional Disaster Emergency Response Simulation Exercise (Ardex) di Kota Cilegon ini,” ungkapnya.

Sebagai peserta dari Indonesia, pihaknya bersyukur, Cilegon ditunjuk sebagai tuan penyelenggaraan Ardex kali ini. Menurutnya, Simulasi bencana ini tergolong kegiatan yang sangat penting. Karena wilayah Cilegon yang diketahui berjajar pabrik kimia industri tergolong rentan terkena bencana industri dan perlu penanganan cepat bila bencana terjadi.

“Tidak ada yang menginginkan bencana, tapi bencana bisa datang kapan saja. Kita harus menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk atas bencana tersebut. Apa lagi komplikasi bencana di Cilegon bisa saja terjadi karena geografis Cilegon berada dekat dengan laut dan gunung berapi. Belum lagi banyaknya industri kimia membuat kemungkinan bencana lainnya akan datang. Sangat beruntung kita ditunjuk sebagai tuan rumah,” ucapnya. (Ully/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here