Nafis, korban tsunami terbaring tak berdaya didampingi orangtuanya di tempat tidur tepat di rumahnya di Lingkungan Ramanuju Tegal, Kelurahan Citangkil, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, Jumat (4/1/2019). Foto Istimewa

CILEGON, SSC – Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon buka suara dengan adanya dugaan pungutan liar (pungli) biaya perawatan terhadap sejumlah korban bencana tsunami.

Direktur Komersial RSKM Cilegon, Suriadi Arif menyesalkan dengan pernyataan yang disampaikan oleh pihak keluarga pasien yang menyampaikan informasi ke publik soal adanya dugaan pungutan di RSKM. Pernyataan tersebut seolah menyudutkan RSKM Cilegon.

“Kami menyesalkan pernyataan yang disampaikan oleh pihak keluarga. Sudah kita (RSKM,red) bantu kok tiba-tiba berbicara seperti itu ke teman-teman media,” kata Suradi saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (4/1/2019).

Perlu diluruskan, kata Suriadi, informasi tentang adanya biaya kepada korban tsunami tidak sama seperti informasi yang ada dalam pemberitaan. Ia menjelaskan, beberapa pasien khususnya untuk korban tsunami awalnya dirawat di ruang Kelas III sebagaimana pengobatan gratis yang ditanggung pemerintah. Akan tetapi, terdapat permohonan dari pihak keluarga pasien meminta untuk dipindahkan ke kelas VIP.

“Nah sejak awal pasien itu di rawat di kelas III. Dari pihak keluarga justru meminta dipindahkan di kelas VIP. Sebelum dipindahkan ke VIP, sejak awal sudah kita sampaikan jika coverage-nya segini kalau misalkan naik kelas ada dong biayanya,” ujarnya.

Setelah dinaikan kelas perawatan, papar Suriadi, ada konsekuensi biaya yang ditanggung pasien. Biaya tambahan diluar biaya gratis dibebankan kepada pasien. Pihaknya pun turut menyayangkan bila terdapat pasien yang menolak membayar naik kelas padahal telah setuju untuk menyanggupi pembayarannya.

“Kalau BPJS itu enggak meng-conver untuk biaya tsunami. Setelah manajemen sampaikan kalau naik kelas itu biayanya lebih tinggi. Justru dari pihak keluarga menyatakan setuju. Tapi, ketika angka keluar justru dia (pihak keluarga,red) malah menolak,” paparnya.

Baca : RSKM Cilegon Diduga Pungut Biaya Belasan Juta Korban Tsunami

Disinggung mengenai adakah surat pernyataan setuju dari keluarga pasien menyanggupi klaim biaya tambahan karena terdapat perubahan kelas perawatan, Suriadi mengakui adanya surat tersebut. Bahwasannya, pihak keluarga korban setuju untuk membayar jika terdapat biaya tambahan yang dibebankan.

“Menurut laporan dari rumah sakit ada surat persetujuan dari pihak keluarga pasien akan hal ini. Intinya, siapapun yang dirawat pasti ada risikonya. Begitu juga kalau mau naik kelas pasti ada selisih yang harus dibebankan ke pasien,” pungkasnya. (Ully/Red)

Komnetar anda tentang berita diatas?