CILEGON, SSC – Sistem absensi fingerprint yang menyebabkan ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) berebut antre dan berdesakan saat mengikuti upacara Hari Kesaktian Pancasila di Halaman Kantor Walikota Cilegon, Senin (1/10/2018) bukan tanpa sebab. Hal itu terjadi karena minimnya alat fingerprint.
Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Cilegon, Mahmudin menjelaskan, pihaknya telah mengusulkan pengadaan penambahan fingerprint kepada Pemkot Cilegon pada tahun lalu namun pengajuan tersebut justru dicoret dan tidak disetujui oleh pemerintah.
“Sebenarnya yang kita (Pemkot Cilegon) butuhkan hampir 60 fingerprint. 43 unit untuk UPTD dan 20 unit untuk kegiatan PHBI (Peringatan Hari Besar Islam), PHBN (Peringatan Hari Besar Nasional),” kata Mahmudin saat dihubungi Selatsunda.com melalui sambungan telepon.
Ironisnya dari 10 unit fingerprint yang tersedia di BKPP, lanjut Mahmudin, hanya 4 unit yang berfungsi. Sedangkan 6 unit rusak dan tidak bisa digunakan kembali.
“Sekarang sisa 4 lagi. Sisa 4 lagi itu belum tentu awet. Bisa aja bulan ini atau bulan depan rusak. Saya sih, berterima kasih ke Pak Plt Walikota (Edi Ariadi) kalau mau nambah lagi fingerprint, karena itulah yang kami (Pemkot Cilegon,red) butuhkan,” terangnya.
Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Cilgon Edi Ariadi baru mengetahui kejadian tersebut.
“Waduh, kapan? Sampai ada yang pingsan gitu? Coba nanti saya panggil Pak Mahmudin. Kalaupun ada penambahan fingerprint kita akan coba bantu itu pun tergantung permintaan dari Pak Mahmudin,” ucapnya. (Ully/Red)

