SERANG, SSC – Dinas Kesehatan Kota Serang mencatat kasus kurang gizi (stunting) pada 2019 mencapai sekitar dua ribu balita dari jumlah 60 ribu bayi yang ada di Kota Serang.
“Stunting itu ada 2000an, tapi kita kan jumlah balitanya banyak, jumlah balita itu kalau kita persentasekan itu 5,8 dari total jumlah balita sekitar 60 ribuan, itu hasil pemantauan kita data tahun 2019,” ujar Kadis Kesehatan Serang, M Iqbal kepada selatsunda.com, Kemarin.
Iqbal menyatakan, dari jumlah kasus tersebut yang paling banyak di Kecamatan Kasemen. Ia menerangkan, banyak hal yang melatarbelakangi stunting satu diantaranya karena faktor kemisikinan.
“Ada kelompok masyarakat yang tinggal di perumahan sama masyarakat yang tinggal di perkampungan. Di perumahan itu hampir jarang ada yang stunting, gizi kurang, gizi buruk tapi bagaimana di perkampungan, diperumahan punya daya beli, ibunya hamil diberikan asupan makanan yang bagus, kalau di kampung boro-boro beli susu,” sambungnya.
Ia menerangkan stunting merupakan kondisi gagal tumbuh atau gagal kembang yang terjadi pada balita/anak usia dini. Biasanya itu terjadi karena kurang asupan makanan bergizi. Agar kasus stunting dapat ditekan, perlu perhatian serius sejak dini terutama dimulai saat kondisi ibu hamil.
“Kita, siklus kehidupan itu untuk stunting berangkat dari remaja putri, remaja putri itu pastikan pada saat SDnya dia bagus, masuk SMP dikasih oleh kita tablet tambah darah, masuk SMA juga demikian begitu, dia masuk ke uisa dewasa kan nikah, nanti kan hamil nah dari situ kita kelola itu, kalau itu di kelola, saya yakin nanti begitu dia hamil tidak ada bakat untuk menjadi kerdil,” paparnya.
Ia berharap, penanganan kasus stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinkes tetapi juga OPD terkait lainnya. Karena penyelesaian stunting membutuhkan proses panjang. Pihaknya berjanji, bila OPD lain turut membantu diperkirakan dalam kurun waktu 5 tahun kasus stunting dapat ditekan hingga menjadi 1 persen.
“70 persen dari kasus stunting itukan tugas OPD lain. Makanya berbicaranya dukungan-dukungan dari program-program dari OPD lain supaya bagaimana kemiskinan dikurangi, bagaimana daya beli masyarakat naik, itukan OPD lain mestinya kan,” jelasnya. (MG-01)

