Foto Ilustrasi (sumber: dara.co.id)

CILEGON, SSC – Kandidat calon kepala daerah di Pilkada Cilegon 2020 sudah mulai ada yang menggaet lembaga survei untuk mengukur elektabilitas dan popularitas. Bahkan diantaranya banyak yang mempercayai lewat lembaga survei bisa menaikan peringkat elektabilitas dan popularitas kandidat calon pasangan.

Akademisi Untirta Suwaib Amirudin yang menanggapi itu meminta bakal calon untuk berhati-hati. Karena ada sejumlah lembaga survei yang tidak melakukan tugasnya secara independen. Apalagi ada yang menurutnya tidak independen biasanya hanya sekedar orientasi bisnis.

“Ada lembaga survei yang betul-betul melakukan survei, ada juga yang tidak. Biasanya yang tidak itu orientasinya hanya bisnis, sehingga targetnya agar penyewa jasa senang,” ujar Suwaib dikomfirmasi, Minggu (26/1/2020).

Baca juga  Penyanyi Kapal Ditemukan Tewas di Kontrakan di Merak Cilegon, Diduga Jadi Korban Pembunuhan

Lembaga survey yang hanya orientasi bisnis, kata Suwaib, biasanya disewa untuk menaikan rating elektabilitas dan popularitas bacalon menjadi tinggi. Manfaat nanti itu pun bermacam-macam. Diantaranya bisa dijadikan perang propaganda politik.

“Misalnya, agar si penyewa jasa dilirik oleh bakal calon lain. Bisa pula untuk semacam perang propaganda, seolah-olah si bakal calon A berada di atas angin sehingga bakal calon lain tidak punya kesempatan untuk menang,” ujarnya.

Parahnya, embaga survei bayaran seperti itu menyajikan hasil elektabilitas dan popularitas bacalon yang sesat. Hasil diberikan dengan rating tinggi padahal fakta dilapangan berbeda.

“Lembaga ini menyatakan si penyewa jasa menang di atas angin, padahal nyatanya di lapangan berbeda. Jelas ini berbahaya, bisa berbalik arah untuk pemenangan si bakal calon,” pungkasnya. (Ronald/Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini