SERANG, SSC – Aksi mahasiswa berujung dengan penggembokan Kantor Pusat Pemerintahan Kota Serang, Kamis (5/12/2019). Aksi itu bentuk kekecewaan terhadap Walikota Serang, Syafrudin dan Wakilnya, Subadri Ushuludin yang dinilai tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah yang ada di Kota Serang.
Dalam aksi, belasan mahasiswa Kota Serang ini menyerukan tiga tuntutan. Pasangan ‘Aja Kendor’ itu didesak untuk menyelesaikan masalah Pedagang Kaki Lima (PKL) di Stadion Maulana Yusuf. Penyediaan Awning untuk relokasi pedagang dianggap sebagai kedok penggusuran. Karena fasilitas di lokasi Pasar Kepandean, tempat pedagang akan dipindahkan masih asal-asalan.
“Terhitung 2 Januari 2019, PKL di Stadion tergusur oleh Walikota Serang. dan proses penataan itu, saya yakinin itu hanya kedok penggusiran. Walikota Serang, kita nilai sudah melakukan mal administrasi karena tidak sesuai perda Nomor 4 tahun 2014,” ujar Korlap, Nur Iman Samsani di lokasi.

Iman menyatakan, tidak hanya persolan PKL namun juga masalah pungutan liar (pungli) di OPD juga disorot. Ia menyatakan, pungli semestinya tidak lagi ditemukan di sarana pelayanan publik. Dengan kejadian pungli di OPD beberapa waktu lalu, dia menilai Syafrudin dan Subadri gagal memberikan pelayanan bebas pungli ke masyarakat.
“Kita juga mendegar ada pungli di Kota Serang. Kita minta bersihkan Kota Serang dari pungli. Kita meminta pecat oknum terkait,” ungkapnya.
Mahasiswa juga meminta Syafrudin dan Subadri meminta maaf kepada masyarakat Serang karena telah gagalnya satu tahun memimpin pemerintahan sebagai bagian menepati janji-janji politiknya. Mereka meminta, jika pasangan jargon Aje Kendor itu tak mampu membenahi masalah yang terjadi, maka lebih baik mundur dari jabatannya.
“Dari tiga tuntutan kami ini, belum sama sekali ada yang sempurna. Kalau memang tidak bisa merealisasikan tuntutan kita, sebaiknya mundur,” tuturnya.
Selain berujung pada penggembokan Kantor Puspemkot Serang, mahasiswa juga melakukan aksi penyegelan. Pagar Kantor kepala daerah Kota Serang itu disegel dengan dipasangi spanduk tanda kekecewaan mahasiswa. (Ronald/Red)

