CILEGON, SSC – Belum lama ini PT Pelabuhan Cilegon Mandiri (PCM) menjadi sorotan publik terkait adanya lumpur hasil urugan PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) yang dibuang di lokasi pembangunan Pelabuhan Warnasari. Perusahaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Cilegon ini membantah bila tempat lumpur tersebut dibuang disebut sebagai bentuk penyalahgunaan lokasi Pelabuhan Warnasari.

Direktur Utama PT Pelabuhan Cilegon Mandiri (PCM), Arief Rivai Madawi mengatakan, PCM jauh sebelum aktivitas pembuangan lumpur dimulai telah memperhitungkan jika aktivitas tersebut akan disorot banyak pihak karena lokasinya berada di area Pelabuhan Warnasari.

Sebenarnya, kata dia, pembuangan tersebut hanya bermaksud memanfaatkan lumpur bekas milik Lotte untuk pengurugan lokasi rawa atau semak belukar di Pelabuhan Warnasari. Karena ada sekitar 3 hektar lahan di lokasi yang kerap tergenang ketika terjadi abrasi atau banjir rob.

Pihaknya juga dengan tegas membantah jika ada pihak yang menyebut lokasi semak belukar merupakan lahan manggrove.

“Memang kita sudah memperhitungkan. Itu kan disi pantai dan rawa dalam. Karena kita ketahui,sisi pantai itu sangat jomplang sisi darat terutama rawanya. Selama ini kan rawa ini kan tergenang air terus. Perlu di tegaskan yang rawa itu bukan manggrove tapi belukar. Kita kondisikan pembuangan lumpur itu, dalam konteks bukan limbah, tapi lumpur untuk menguruk area dalam,” ujar Arief didampingi Direktur Operasional dan Komersil, Akmal Firmansyah ditemui di Kantornya, Senin (8/7/2019).

Baca : Diduga Disalahgunakan, Lumpur Hasil Pengurugan Lotte Dibuang ke Lahan Pelabuhan Warnasari

Menurutnya, pemanfaatan lumpur itu memiliki tujuan jangka panjang. Kerjasama pembuangan lumpur yang melibatkan PT Nira selaku pengangkut material dan diketahui oleh LCI ini dilakukan untuk persiapan akses jalan utama Pelabuhan Warnasari. Dalam kerjasama tersebut PCM melibatkan Lotte Engineering and Construction Hans Jaya, salah satu perusahaan Lotte Group.

“Jelas ada (kerjasama pembuangan lumpur). Bukan dengan Lotte tetapi dengan kontraktornya, PT Nira. Tapi ini diketahui Lotte. Jadi secara teknis sudah kita perhitungkan, itu tidak ada yang dirugikan oleh kita. Jadi pure untuk (urugan lahan warnasari) sisi dalam yang rawa,” papar Arief.

Disinggung aktivitas tersebut diduga menyalahi aturan karena Amdal Pelabuhan Warnasari belum terbit, Arief membantahnya. Pekerjaan itu hanya bersifat insidentil mencegah banjir rob dan bukan memiliki maksud untuk pembangunan dermaga pelabuhan warnasari.

Ia kembali menegaskan, aktivitas tersebut tidak ada sama sekali menyalahgunakan lokasi warnasari justru sebaliknya aktivitas tersebut malah memberi dampak positif.

“Kalau aktivitas pembangunan menyalahi. Tapi dalam konteks itu tidak ada menyalahi karena kita tidak membangun dermaga. Itu pekerjaan yang insidentil saja. Selama ini mencegah rob masuk saja, supaya tidak abrasi,” terangnya.

“Saya kira, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam sisi sektor lahan kita disalah gunakan yang negatif. Justru lebih diuntungkan,” sambung dia.

Baca : Pemkot Cilegon Dinilai Tutup Mata Soal Pembuangan Lumpur Lotte ke Pelabuhan Warnasari

Sementara, Direktur Operasional dan Komersil PCM, Akmal Firmansyah menyatakan, aktivitas tersebut selain memberi manfaat untuk perataan rawa di lokasi Pelabuhan Warnasari juga memberi kontribusi pendapatan bagi PCM sekalipun pekerjaan tersebut diluar core bisnis PCM di sektor kepelabuhanan.

“Memang ada profit masuk ke kita cukup besar, masuk ke kas PCM,” paparnya.

Untuk diketahui, tiga hektar lahan dilokasi pengurugan lumpur Lotte itu berada di atas lahan 35 hektar yang rencananya akan dikerjasamakan dengan PT Akar Kaniis Indonesia. Sebelumnya PCM juga lebih dulu menjalin rencana kerjasama dengan PT U Connectivity Service (UCS) dan PT Duta Tong Yang Indonusa untuk membangun dermaga dan jembatan dermaga (trestle) diatas lahan 10 hektar warnasari.

“Pembangunan itu yang akan dilakukan dengan Akar Kaniis yang disisi darat 35 hektar, ini (pembuangan lumpur Lotte) termasuk yang rawa-rawa. Kenapa kita ngambil dari Lotte, karena rawa-rawa itu 5 meter. Dengan dimasukan lumpur, air keluar sehingga ada pengeringan,” tandasnya. (Ronald/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here