PT Pelabuhan Cilegon Mandiri menandatangani nota kesepahaman bersama dengan PT Akar Kaniis Indonesia di Hotel Fairmont, Jakarta terkait rencana kerjasama pembangunan Pelabuhan Warnasari, Jumat (29/6/2019). Foto Istimewa

CILEGON, SSC – PT Pelabuhan Cilegon Mandiri (PCM) melakukan penandatanganan nota kesepahaman bersama atau Memorandum of Uderstanding (MoU) dengan 3 Investor baru untuk membangun Pelabuhan Warnasari. Setelah sebelumnya MoU dengan PT Bosowa Bandar Indonesia (BBI) sempat kandas kini Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Cilegon ini dalam dua pekan terakhir mengubah haluan menjalin rencana kerjasama di luasan lahan 45 hektar warnasari dengan tiga investor sekaligus baik dari Dalam Negeri dan Luar Negeri.

PCM diketahui pada Jumat (29/6/2019) di Hotel Fairmont, Jakarta meneken Mou dengan PT Akar Kaniis Indonesia sehubungan rencana kerjasama pembangunan fasilitas penunjang di luasan lahan 35 hektar. Pada dua pekan lalu, Badan Usaha Pelabuhan (BUP) Warnasari ini telah lebih dulu menjalin kesepahaman dengan PT U Connectivity Service (UCS) dan PT Duta Tong Yang Indonusa terkait pembangunan dermaga dan jembatan dermaga (trestle) di lahan 10 hektar.

“Itu (MoU PCM-Kaniis) kaitan dengan kerjasama pengelolaan lahan yang 35 hektar. Kerjasama lahan ini diperuntukan untuk pergudangan, penimbunan, fasilitas BBM dan hal-hal lain. Jadi MoU ini murni pengelolaan lahan untuk menunjang yang 10 hektar. Merekalah investornya,” ujar Direktur Utama PCM, Arief Rivai Madawi dikonfirmasi.

Arief menerangkan, MoU ini baru sebatas kesepahaman dan belum mengarah pada pembahasan hak dan kewajiban kedua belah pihak. Sekalipun PCM pada penjajakan sebelumnya telah menyampaikan pola rencana pola kerjasama yang ditawarkan dengan opsi pembagian keuntungan atau sharing profit, namun hal itu masih perlu dikaji komprehensif lewat tim bersama yang dibentuk.

“MoU ini masih kesepahaman saja, garis besarnya saja tapi belum menuangkan hak dan kewajiban. Jadi masih belum merinci. Hanya MoU ini menyatakan bahwa dia siap dalam investasinya. Jadi nanti kita mengkaji seberapa besar investasinya, FS-nya, DED-nya dan sebagainya lewat tim legal yang dibentuk,” tuturnya.

“Kalau kita menginginkan sharing profit, nanti mereka menawarkan seperti apa. Kalau itu sudah sepakat pola kerjasamanya, baru kita tingkatkan ke perjanjian,” sambung dia.

Sementara, Direktur Operasional dan Komersil PCM, Akmal Firmansyah menambahkan, ketertarikan investor lebih mempertimbangkan lokasi warnasari yang strategis. Seperti halnya PT Duta Tong Yang Indonusa selaku perusahaan asal Korea tertarik berinvestasi karena lokasi warnasari berada diantara PT Lotte Chemical Indonesia dan PT Krakatau Posco.

“Seperti PT Tong, dia tertarik karena ada di wilayah segitiga. Dekat dengan Lotte, dekat juga dengan Posco,” paparnya.

Besar kemungkinan pada pembahasan berikutnya, kata dia, ketiga perusahaan akan berafiliasi dalam satu kerjasama. Afiliasi itu bisa dijalin dengan pola strategi Business to Business (B2B).

“Bisa juga nanti dua perushaaan itu nanti bekerjasama dengan Kaniis. Artinya, ini kan bisa B2B, bisa terjalin bila ada kesepakatan dan kesepahaman,” tuturnya.

Mengenai perizinan sisi laut di Kementerian Perhubungan, kata Akmal, saat ini tengah berproses. Bahkan respon Kemenhub terkait kerjasama yang dijalin PCM dengan investor baru mendapat tanggapan positif.

“Kemarin kita sudah ke Kemenhub. Pada intinya, kita diterima Dirjen Hubla. Mereka akan membantu untuk mengeluarkan perizinan (surat penugasan dimulai pembangunan pelabuhan) tersebut. Memang ada perhatian dari Kemenhub, karena ini investasi yang cukup besar, kita harus hati-hati. Penekannya lebih kepada market,” pungkasnya. (Ronald/Red)

Komnetar anda tentang berita diatas?