Pedagang berjualan di dekat bantaran kali di Pasar Kranggot, Kota Cilegon, Selasa (14/1/2020). Foto Elfrida Ully/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Pedagang Kaki Lima (PKL) di bantaran kali Pasar Kranggot, Kota Cilegon masih kerap membandel. Bagaimana tidak, sebelumnya pemerintah sudah melarang pedagang berjualan di bantaran sungai namun larangan terkesan tidak dihiraukan.

Pantauan Selatsunda.com di lokasi, para pedagang masih berjualan pinggir kali dekat pintu masuk pasar. Keberadaan pedagang  membuat kondisi pasar menjadi macet dan kumuh. Petugas baik kepolisian maupun Dinas Perhubungan (Dishub) Cilegon tidak terlihat dilokasi mengatur kemacetan kendaraan yang masuk.

Salah satu pedagang Kranggot, Yustandi mengatakan, dirinya lebih memilih berdagang di dekat bantaran sungai karena lokasinya jauh lebih nyaman dan terjangkau dengan pembeli. Selain itu, tarif lapak yang dikenakan pun jauh lebih murah jika dibandingkan dengan lapak emprakan yang sudah diberikan oleh Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) Kota Cilegon.

“Lebih murah lah Mba. Apalagi cuman bayar Rp 2000 aja. Kalau di lapak dari Pemda kan, jauh di jangkau oleh pembeli dan harga lapak yang dibanderol pun cukup mahal,” kata Yustandi di lokasi,” Selasa (14/1/2020).

Senada dengan Yustandi, pedagang lainnya, Aminah juga lebih memilih berjualan di dekat bantaran sungai dibandingkan dengan lapak yang sudah disediakan oleh pemerintah. Ia enggan berjualan di emprakan karena sepi pembeli.

“Yah dari dinas udah diizinin mba jualan di sini. Yah udah, karena udah dapat izin lebih enak jualan di sini. Kalau di sana (lapak emprakan) kita (pedagang) justru rugi. Dagangan malah gak laku. Kalau di sini kan, ketika pembeli nyampe langsung tuh ke lapak penjual. Enggak perlu jauh-jauh lagi lah,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Disperindag Cilegon Abadiyah masih dihubungi melalui telepon masih belum bisa dikonfirmasi. (Ully/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here