20.1 C
New York
Minggu, Mei 24, 2026
Beranda Peristiwa Sejumlah Kecamatan Diterjang Banjir, Pemkot Nyatakan Cilegon Siaga Bencana

Sejumlah Kecamatan Diterjang Banjir, Pemkot Nyatakan Cilegon Siaga Bencana

0
592
Pengendara mendorong motornya saat banjir terjang Jalan Lingkar Selatan, Kelurahan Kepuh, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon, Jumat (2/1/2026) malam. Foto Ronald/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Pemerintah Kota menetapkan Cilegon dengan status siaga bencana. Setelah sejumlah wilayah di Kota Cilegon yakni Kecamatan Ciwandan, Cibeber dan Kecamatan Jombang terdampak banjir.

Walikota Cilegon Robinsar mengatakan, saat ini status Cilegon dinyatakan siaga bencana. Karena setelah beberapa kecamatan terdampak banjir, BMKG juga menyatakan pada bulan Januari diprediksi menjadi puncak musim hujan.

“Ini sudah siaga. Sudah siaga, karena BMKG menyampaikan bahwa Januari adalah puncak musim hujan. Pak Dandim juga mengingatkan juga, khawatir Pak Wali, awas ketika nanti puncak musim hujan, pas ada purnama, lagi pasang-pasangnya, itu jadi atensi juga,” ujar Robinsar usai memimpin Rapat Penanganan Banjir dan Kesiapan Menghadapi Banjir di Aula Setda, Sabtu (3/1/2025).

“Jadi memang ini masih di awal, masih ada 28 hari supaya melewati puncak musim hujan ini. Kita terus waspada, kita siaga untuk menanggulangi ini,” sambungnya.

Robinsar menyatakan, ada sejumlah kecamatan yang terdampak banjir. Hari ini meski tidak turun hujan dengan intensitas tinggi, namun banjir meluas hingga Kecamatan Jombang.

“Jadi kalau kita lihat tadi pagi hujan tidak tinggi, tapi sekarang cakupan banjir meluas di wilayah Jombang, meluas lagi. Karena memang volume debit dari atasnya, masih cukup tinggi, di wilayah pegunungan,” ucapnya.

Robinsar menyatakan, dirinya telah meninjau banjir yang terjadi sejak Kemarin, Jumat (2/1/2026) dari siang. Ia mengungkapkan, banjir terjadi karena volume air hujan yang tinggi. Akibat hujan yang lebat, luapan air tidak tertampung. Tidak tertampungnya air hujan juga karena air laut mengalami pasang.

“Saya yang melihat langsung ke lapangan dari siang, itu memang debit air yang sangat tinggi. Itu air ngga ada berhentinya. Itu malah makin jam, makin naik.  Jadi memang airnya nggak tertampung. Jadi sungai kita, kali kita, dengan debit kita yang ada, ketika hujan itu, tidak menampung,” tuturnya.

“Itu yang rill saya lihat situasi di lapangan, ditambah juga pasang laut, air lambat turun ke laut. Jadi memang ini kalau bicara air banjir karena memang debit air yang berlebih, intensitas yang tinggi,” ucap Robinsar.

Ditanya awak media terkait sebab banjir di hulu akibat aktivitas pertambangan, kata Robinsar, hal itu masih dikaji pihaknya.

“Ya kajian (aktivitas galian) itu nanti dari BPBD, supaya ada kajian ilmiahnya. Baru nanti kita petakan langkah-langkah berikutnya. Kita fokus pada penyelamatan masyarakat memastikan mereka aman dan pelayanan kesehatan,” ucapnya.

Ia menyatakan, pihaknya juga masih melakukan kajian terkait adanya pemagaran industri yang sebabkan air tidak bisa mengalir ke laut.

“Itu tadi disampaikan (dalam rapat). Kita petakan juga termasuk kajian-kajian yang ada di situ. Intinya, langkah-langkah ada dari kita terhadap industri. terhadap mungkin perusakan alam. Atau mungkin perihal yang makan jaringan sungai, itu langkah ke depan setelah evaluasi,” paparnya.

Rapat saat ini, kata Robinsar, fokus pada langkah penanganan memastikan korban bencana banjir diselamatkan. Korban banjir dapat terfasilitasi baik makan, tempat pengungsian dan juga layanan kesehatan.

“Makanya kita rapat hari ini fokus untuk bisa memastikan para korban bencana banjir bisa diselamatkan. Fokus hari ini, selamat, sehingga mereka terfasilitasi baik dari makan, tempat yang nyaman layak dan juga kesehatan. Kita fokus mitigasi para korban dulu,” terangnya. (Ronald/Red)