CILEGON, SSC – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Banten turun ke lokasi pabrik gula PT Sentra Usahatama Jaya menginvestigasi kejadian kebakaran yang terjadi Senin (23/7/2019) lalu.
Plt Kepala UPTD Pengawasan Tenaga Kerja Kota Serang dan Cilegon pada Disnakertrans Banten, Dudus Suyudi Maman mengatakan, pihaknya telah menurunkan sebanyak 4 tenaga spesialis untuk mengumpulkan fakta-fakta penyebab kebakaran gudang bahan gula mentah area 1 di SUJ. Tim Disnakertrans turun ke lokasi pada Selasa (23/7/2019).
“Kita sudah mengirim tim kesana, sudah mencari keterangan, ke lapangan sesuai spesialis masing-masing. Itu kita minta laporan dari manajemen, hal-hal yang berhubungan dengan temuan kita,” ujar Dudus ketika dikonfirmasi, Rabu (24/7/2019).
Dari informasi yang dikumpulkan tenaga spesialis, kata dia, kejadian kebakaran yang terjadi tiga hari lalu itu bukanlah kejadian kebakaran yang pertama. Kebakaran sempat terjadi pada 2017 silam. Disnakertrans, kata dia, memandang perlu mendapatkan laporan kebakaran tersebut sebagai bahan acuan investigasi.

“Rujukannya yang juga didapat dari teman-teman dilapangan, katanya, kejadian ini bukan yang pertama, kejadian pernah di 2017. Kejadian mirip seperti ini tapi di tempat berbeda. Itu kan ada kronologinya, ada BAP-nya. Memang itu tidak bisa dipastikan seperti itu, tapi bisa dijadikan acuan,” urainya.
Kembali dijelaskan Dudung, Disnakertrans dalam investigasi sudah memeriksa beberapa orang saksi untuk diminta keterangan. Termasuk meminta keterangan dari operator dan berbagai pihak yang mengetahui kejadian di lokasi.
“Itu (pemeriksaan saksi) kan sudah pakaian kita, tupoksi kita menegakan aturan ketenagakerjaan yang ada disana. Itu (area kejadian) kan ada spesialisnya, pasti itu diminta spesialis di bidang itu. Misalnya, untuk spesialis kimia, nanti minta laporan dari bagian lab. Untuk konsultan yang menjalankan kelistrikan, berhubungan dengan spesialis listrik,” terangnya.
Terkait dugaan penyebab kebakaran, pihaknya belum bisa menyimpulkan karena masih terlalu dini. Berbagai kemungkinan diperkirakan bisa menjadi pemicu kebakaran. Baik dugaan karena kegagagalan sistem dalam menjalankan peralatan, belt conveyor yang terbakar akibat gesekan dan dugaan lainnya. Berbagai dugaan ini nantinya akan diselaraskan dengan temuan di lapangan dan keterangan saksi.
“Misalnya ini patut diduga dari kejadian fermentasi, dari gula menjadi alkohol. Atau misalnya ini akibat sisa gula yang menempel di alat, menumpuk kemudian kepanasan menjadi cair, itu kan juga akan berdampak jadi sampah. Kalau kena api kan mudah terbakar. Nah kajian-kajian itu harus diselaraskan dengan laboraturium disana,” tandasnya.
“Saat ini, kita karena belum tahu sumber apinya dan sifatnya masih data awal dan belum didukung pertanggungjawaban mereka, kita belum bisa menyimpulkan sejauh kemungkinan itu,” sambung dia.(Ronald/Red)

