CILEGON, SSC – Kasus campak di Kota Cilegon selama Januari-September 2025 tercatat mencapai 31 kasus. Cuaca dan angka imunisasi rendah akibat misinformasi jadi beberapa alasan pemicu penyebaran masifnya penyebaran campak.
Akibat tingginya jumlah campak ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Cilegon menetapkan 4 kecamatan yani Kecamatan Cibeber, Jombang, Citangkil, dan Pulomerak dengan status Kejadian Luar Biasa (KLB).
Dari data Dinkes Cilegon, kasus campak di Kecamatan Cibeber 7 kasus, Kecamatan Jombang 4 kasus, Kecamatan Citangkil 6 kasus, Kecamatan Cilegon 3 kasus, Kecamatan Grogol 2 kasus, Kecamatan Purwakarta 2 kasus, Kecamatan Ciwandan 3 kasus dan Kecamatan Pulomerak 3 kasus.
Wakil Walikota Cilegon, Fajar Hadi Prabowo mengatakan, dengan adanya 4 Kecamatan berstatus KLB maka Pemkot harus lebih berperan aktif. Upaya penanggulangan ini harus dilakukan bersama-sama.
“Karena sudah dinyatakan KLB di 4 kecamatan, jadi bagaimana kita harus lebih berperan aktif agar penyakit tersebut tidak kembali menyebar ke daerah yang belum KLB. Kita tidak bisa membedakan ada yang aktif dan proaktif. Penyakit kita tidak ada yang tau. Intinya campak di 4 kecamatan sudah KLB sudah luar biasa, makannya perlu ada follow up. Tapi saya ingatkan akan target-target nya dan mengingatkan kaloborasi bareng-bareng,” kata Fajar,” Rabu (29/10/2025).
Fajar pun meminta agar setiap bulan Dinas Kesehatan dapat melaporkan hasil capaian imunisasi kepada Walikota Cilegon, Robinsar.
“Saya minta laporan dan target-target capaian bisa disampaikan kepada pimpinan. Dan semua stakholder bisa sama-sama bekerjasama dengan program vaknsinasi campak,” ujarnya.
Kata Fajar, penyakit campak ini tidak boleh dianggap remeh atau sepele. Perlu tindakan serius bahkan edukasi kepada masyarakat akan efek setelah dilakukan imunisasi.
“Kadang anak pasti jelas takut akan jarum, dan orang tuanya takut berpikiran macam-macam. Jadi perlu ada edukasi, ingetin, efeknya apa?,” ujar Fajar.
Fajar juga menyoroti masih adanya stigma dan informasi keliru terkait imunisasi.
“Intinya pelru ada edukasi, impactnya apa dampaknya apa, karena lebay yah kalo ada orangtua bilang kalo divaksin nanti genetiknya ini itu, emang vaksinya diambil dari udang Cikande, kan enggak,” tutur dia menegaskan.
Pemkot akan memastikan ORI Campak Rubela berjalan masif dan tepat sasaran sebagai upaya memutus penyebaran penyakit, terutama pada lingkungan sekolah dan pemukiman warga.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinas Kesehatan) Cilegon, Ratih Purnamasari mengungkapkan, target imunisasi campak Kota Cilegon 2025 mencapai 27.130. Imunisasi campak sudah dimulai sejak 16-13 November 2025 dengan target usia 9 bulan hingga 15 tahun.
“Kalau tahun-tahun sebelumnya, Cilegon belum ada KLB. Baru pertama ini dari 8 kecamatan, 4 kecamatan dinyatakan KLB. Faktor terjadinya campak, karena kekebalan tubuh yang menurun sehingga mudah terinfeksi virus.
“Tergantung pada daya tubuh seseorang. Kan bentuk virus ini sel limited artinya bisa sembuh sendiri asalkan kekebalan tubuh bagus. Ketika daya tubuh rendah maka akan menimbulkan penyakit dan menimbulkan gejala. Imun berpengaruh pada kesehatan,” pungkasnya. (Ully/Red)

