Dua pipa putih di patok di pinggir jalan Amerika, Kiec, Kota Cilegon sebagai tanda jalan akses masuk Pelabuhan Warnasari. (Foto Dokumentasi)

CILEGON, SSC – Dua akses jalan menuju Pelabuhan Warnasari yang rencananya akan dibangun PT Pelabuhan Cilegon Mandiri (PT PCM) tampaknya tidak berjalan mulus. Belakangan, akses jalan menuju Pelabuhan Warnasari melewati Kawasan Industrial Estate Cilegon (KIEC) tepatnya di Jalan Amerika tidak dapat dilakukan karena faktor ketidaklayakan pembangunan. Faktor ini dikarenakan adanya jalur pipa gas yang bersinggungan dengan rencana tersebut. Sementara jalur lain yakni melewati jalur Kawasan Industri Lotte juga belum dapat dibangun karena terkendala lahan salah satu perusahaan industri.

Direktur Operasional dan Komersil PT PCM, Akmal Firmansyah, Senin (21/1/2019) membenarkan, pembangunan jalur akses pelabuhan warnasari awalnya direncanakan lewat jalan Amerika di Kiec. Namun berdasarkan masukan konsultan, papar Akmal, jalan itu tidak dapat dibangun karena tidak memenuhi aspek kelayakan pembangunan infrastruktur. Dengan kata lain, pembangunan akses jalan melewati jalur pipa gas.

Diketahui, rencana pembangunan akses jalan dan pelabuhan warnasari awalnya berdasarkan kesepakatan yang dibuat antara Pemerintah Kota Cilegon dengan PT Krakatau Steel pada 2012 silam. Pemkot dan KS bersepakat menandatangani percepatan pembangunan Pabrik PT Krakatau Posco dan Pembangunan Pelabuhan Warnasari yang mana penandatanganannya kala itu disaksikan 3 menteri.

“Tanah kita kan 45 hektar, 2,1 hektar diantaranya itu dari kesepakatan yang dulu itu untuk jalan. Nah, kalau kita membuat jalan, harus melewati pipa-pipa gas disitu. Artinya kan ada jembatan diatas pipa. Nah kalau membuat konstruksi dibawah pipa, itu tidak bisa. Kemudian kalau dibuat jembatan layang atau buat flyover, harus ditinggikan lagi jalan (utama) itu. Itu juga belum bisa, karena investasinya (membangun jembatan layang) butuh biaya besar,” ungkapnya.

Selain opsi di jalan amerika KIEC, kata Akmal, opsi lain untuk pembangunan jalan melalui kawasan Lotte juga belum dapat dilakukan. Rencana itu juga masih terdapat kendala.

“Untuk yang Lotte itu sudah siap, kita tinggal terkendala tanah di BP. Itu yang belum clear,” tandasnya.

Untuk mencari solusi, kata Akmal, PCM mewacanakan opsi jalan lain sebagai alternatif. Jalan alternatif itu akan melewati jalan yang berada dekat dengan lokasi PT Krakatau Osaka Steel (PT KOS). Saat ini, kata Akmal, wacana atas opsi itu masih dibahas intensif di internal PCM dan Pemkot selaku pemegang saham PCM.

Pembahasan itu disebut-sebut erat kaitannya dengan adanya wacana KS yang belakangan berencana untuk bekerjasama dengan pemkot dalam pembangunan pelabuhan warnasari yang belakangan mencuat di publik.

“Sekarang yang mau akan kita buat, kita MOU-kan di jalan alternatif lewat di PT Krakatau Osaka Steel. Itu opsinya. Ini baru opsi, kan (kerjasama) harus mengukur kemampuan finansial kita juga. Yang penting akses jalan dan perizinan selesai dahulu,” paparnya.

“Wacananya Itu hanya jalan saja. Kalau mau (kerjasama pembangunan) pelabuhan kan harus ada FS-nya, harus ada kajian bisnis plannya. Sekarang saja belum ada melayangkan surat peminatan,” ujarnya.

Soal rencana jalan alternatif itu akan berimplikasi dengan pemecahan sertifikat Hak Pengelolaan Lahan (HPL) warnasari yang saat ini tengah berproses, Akmal mengakuinya. Dimungkinkan bila nanti terdapat kesepakatan dengan KS, kata Akmal, 2,1 hektar lahan yang awalnya akses jalan melewati jalan Amerika akan diperjanjikan ulang dengan opsi alternatif yang diwacanakan pihaknya.

“Itu pasti (Sertifikat HPL 45 hektar dipecah). Untuk mempersingkatnya, wacana (opsi jalan altenatif lewat PT KOS), kita membuatnya di MOU dengan KS,” tandasnya. (Ronald/Red)

Komnetar anda tentang berita diatas?