CILEGON, SSC – Uji coba pembelajaran tatap muka (TPM) sudah mulai digelar secara di sekolah-sekolah yang ada di Kota Cilegon, Senin (30/8/2021). Termasuk salah satunya Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 yang terletak di Lingkungan Ketileng Timur, Kecamatan Cilegon.
Pantauan Selatsunda.com di sekolah tersebut, para murid sejak pukul 07.00 sudah mulai terlihat berdatangan. Tampak murid datang dengan mengenakan masker. Di depan gerbang sekolah terlihat guru memegang thermogun untuk mengukur suhu badan para murid. Orang tua yang saat itu mengantar anak mereka tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam area sekolah. Sekolah hanya membolehkan mengantar murid sampai gerbang sekolah.

Para murid setelah diukur suhu badan langsung diarahkan guru untuk mencuci tangan. Setelahnya, murid dipersilahkan masuk ke ruang kelas masing-masing.
Terpantau saat PTM digelar di ruang kelas IIB, tampak wali kelas sebelum berdoa mengawali kegiatan PTM dengan mengajak para murid berinteraksi.
“Selamat pagi anak-anak. Sudah siap mau belajar?,” tanya wali kelas.
Kemudian para murid pun menjawab “Siap,” ucap murid bersama-sama.
Wali kelas juga mengingatkan murid untuk tetap mematuhi protokol kesehatan “Apakah semua pakai masker?,” tanyanya.
Murid kemudian menjawab “Pakai,” ucap para murid.

Plt Kepala Sekolah SDN Ketileng 1, Buang Syafrudin mengatakan, PTM diselenggarakan mulai dari kelas I sampai kelas VI secara terbatas. Murid yang mengikuti PTM dibatasi 50 persen.
Ia menyatakan, PTM dibagi dalam dua sesi. Masing-masing sesi dilangsungkan selama 2 jam. Untuk sesi pertama dilaksanakan pada pukul 07.30 WIB dan berikutnya pada pukul 09.30 WIB.
“Sesuai imbauan dari Kemendikbud dan Pemerintah Daerah, dan Cilegon masuk dalam level 3, kegiatan pembelajaran tatap muka diperbolehkan 50 persen,” ujarnya.
Ia menyatakan, sekolah dalam PTM mengefektifkan waktu 2 jam yang tersedia. Pola pembelajaran dilakukan dengan mengisi materi pendidikan bersifat tematik dan juga khusus.
“Kita usahakan tidak banyak menjelaskan materi, jadi pokok pembahasan saja. Jadi kita tetapkan secara tematik. Tetapi nanti dalam waktu itu, guru bidang seperti Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Jasmani, nanti itu dibagi saja,” tuturnya.
Ia menyatakan, pola pembelajaran dalam jaringan (dating) memang tetap lebih difokuskan dengan porsi 70 persen. Untuk
PTM karena terbatas maka diporsikan 30 persen.
“Karena ini terbatas, porsinya tidak begitu besar. Yang kita fokuskan tetap pembelajaran dengan daring. Porsinya lebih besar,” terangnya.
Sejauh ini, pembelajaran berjalan secara baik. PTM di sekolah yang berjumlah 237 murid dan 16 guru ini diselenggarakan dengan protokol kesehatan yang ketat.
“Seperti tadi, orang tua tidak kita perkenankan menunggu di sekolah. Artinya, anak murid diserahkan sepenuhnya kepada kami,” pungkasnya. (Ronald/Red)

