Suasana ruang kontrol atau pengawasan lalu lintas kapal yang ada di Stasiun VTS Merak, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, Rabu (24/10/2018). Foto Ronald/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – International Maritime Organization (IMO) dikabarkan akan menindaklanjuti usulan Indonesia terkait rencana penetapan Traffic Separation Scheme (TSS) di Selat Sunda, Banten. Selain Selat Sunda, TSS juga diusulkan akan diterapkan di Selat Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Kepala Stasiun Vessel Traffic Services (VTS) Merak, Entris Sutrisman mengatakan, informasi tindaklanjut tentang rencana penetapan TSS di Selat Sunda ini diketahui pihaknya dari Direktorat Navigasi Perhubungan Laut. Rencananya, Tim dari IMO akan turun melakukan survei di Perairan Banten menindaklanjuti skema pemisahan jalur lalu lintas kapal ini dalam waktu dekat.

“Informasi (TSS) Ini berdasarkan kesepakatan dengan IMO. Jadi informasinya ada sekitar 30 negara setuju untuk TSS dan IMO (International Maritime Organization) yang mediasi. Jadi nanti akan ada tim yang datang kesini dan survei ke lokasi. Rencananya sekitar tanggal 8 atau 22 november ini,” ungkap Entris dikonfirmasi di kantornya, Rabu (24/10/2018).

Secara detail Entris menjelaskan, skema TSS diusulkan Indonesia selaku anggota IMO dengan pertimbangan bahwa Selat Sunda merupakan salah satu jalur internasional yang masuk pada Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Selat, lanjutnya, menjadi jalur vital dan strategis karena ramai dilintasi kapal baik kapal penyeberangan maupun kapal barang dalam negeri dan internasional. Selain itu, penetapan TSS di Selat Sunda juga bermaksud untuk memberikan jaminan keselamatan pelayaran.

“Disini kan memang jalur ALKI 1, jalurnya cukup padat dengan lalu lintas kapal. Kemudian kedua pertimbangannya itu untuk (menerapkan) zero accident,” ujarnya.

Sejauh ini, lalu lintas kapal yang melintas di Selat Sunda seriap harinya tercatat mencapai ratusan trip baik kapal barang maupun kapal penyeberangan. Dengan penerapan skema TSS ini, jalur lalu lintas seluruh kapal yang melintas dapat diatur untuk menjamin keselamatan pelayaran.

“Sebenarnya memang harusnya ada trafficnya. Seperti ferry disini, tidak ada traffic ferry. Isitlahnya kalau di darat (jalur pemisahan kendaraan) seperti busway. Jadi kapal internasional yang melintas itu bisa dipandu kapal (tugboat) khusus, kalau melintas dengan kecepatan tingggi. Kita ketahui, kapal asing yang melintas disini sangat tinggi. Ada kapal dari China, Thailand, Singapura, Korea dan lainnya,” terangnya.

Sementara dikonfirmasi terpisah, Kepala KSOP Banten, Yefri Meidison mengetahui adanya rencana penerapan skema pengaturan pemisahan lalu lintas kapal tersebut. Rencana penetapan TSS yang masuk dalam program Kemenko Kemaritiman ini, sambungnya, tidak lain diterapkan dengan mempertimbangkan penerapan zero accident di Selat Sunda.

“TSS itu urgensinya bilamana kecelakaan kapal di tempat kita tinggi, kemudoan traffic kapal juga tinggi dan resiko bahaya kapal juga tinggi. Ada yang mengkaji, traffic disini tinggi karena Penyeberangan Merak – Bakauheni, yang ditengahnya ada ALKI. Itu yang dikhawatirkan dan perlu kiranya diterapkan ini. Jadi lalu lintas baik passing dan crossing kapal diatur, tujuannya tidak lain untuk pencegahan (kecelakaan), untuk zero accident,” paparnya. (Ronald/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here