Kapolda Banten, Irjen Pol Fiandar didampingi Dirkrimsus, Kombes Pol Nunung Saefudin saat mengungkap kasus dugaan penjualan madu palsu saat Press Conference di Mapolda Banten, Selasa (10/11/2020). Foto Fathul Rizkoh/Selatsunda.com

SERANG, SSC – Berjualan madu ditengah pandemi Covid-19 memang menjadi bisnis yang menggiurkan. Tetapi jangan menyangka jika penjualan madu seluruhnya berlabel legal. Ada juga pelaku kejahatan yang memanfaatkan pandemi Covid-19 dengan menjual madu palsu alias ilegal.

Adalah Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Banten yang mengungkap kasu  pembuatan dan peredaran madu palsu di wilayah Banten. Tiga orang pelaku inisial MS (47), TM (35), dan AS (24) ditetapkan sebagai tersangka diduga menjual madu palsu khas asal Lebak.

Kapolda Banten, Irjen Pol Fiandar mengatakan, pegungkapan kasus madu palsu awalnya bermula dari adanya laporan aduan masyarakat. Petugas kemudian menelusurinya.

AS adalah tersangka pertama yang diamankan polisi saat di Lebak. Tersangka ditangkap kedapatan mau melakukan transaksi penjualan madu palsu sebanyak 20 botol cairan madu paslu 500 mililiter dan 1 jirigen berukuran 30 liter.

AS kemudian diinterogasi. Dalam pengakuan kepada penyidik, AS mengaku mendapatkan caira madu palsu dari TM di Jakarta.

Baca juga  Diduga Sakit, Warga Bojonegara Ditemukan Tewas di Hotel Regent

TM kemudian dikejar dan ditangkap petugas. TM yang mengolah madu mengaku mendapatkan bahan material madu dari MS, selaku pemilik bahan-bahan material madu palsu. Tersangka MS pun ditangkap.

Dari hasil pemeriksaan, ketiga tersangka mengaku modus pembuatan madu palsu dilakukan dengan mencampurkan sejumlah zat berbahaya baik zat molases, glukosa, dan fuktosa.

Cairan madu yang sudah diolah ini kemudian dikemas dalam bentuk jirigen seharga Rp 660 ribu dengan berat bersih 30 Liter. Madu dalam jirigen ini di kemas kembali di daerah Banten menjadi lebih kecil, atau kemasan botol yang di jual sekitar Rp 150 hingga Rp 200 ribu.

Jika dalam satu hari, tersangka dapat memproduksi kurang lebih satu ton madu maka diperkirakan dapat meraup omset Rp 22,4 juta. Jika dalam satu tahun setiap hari memproduksi madu, tersangka dipekirakan meraup omset hingga Rp 8 miliar.

“Tiga tersangka sudah kami tahan, barang bukti cukup banyak. Kasian masyarakat saat pendemi merasa madu paling mujarab menangkal daya tahan tubuh ternyata madunya madu palsu,” ungkap Kapolda saat melakukan pers conference di Polda Banten, Selasa (10/11/2020).

Baca juga  Temui Ratusan Massa, Walikota Serang Ajak Terapkan Protokol Kesehatan Covid-19

Di lokasi yang sama Dir Reskimsus, Kombes Nunung mengatakan madu palsu turut bukan hanya di jual di sepanjang di daerah Banten namun juga diluar daerah Banten. Mereka menjual baik secara langsung maupun menjualnya di toko-toko online.

“Dari hasil pemeriksaan, bukan hanya di jual di Banten dan Jakarta, namun juga di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, mungkin juga di luar pulau Jawa,” tandas Direskimsus, Kombes Nunung.

Terhadap ketiga tersangk, kata Nunung, dijerat Pasal 140 jo Pasal 86 ayat 2, Pasal 142 jo Pasal 91 ayat w UU tentang Pangan dengan ancaman pidana 2 tahun penjara dan denda Rp 4 miliar. Tersangka juga bisa dijerat Pasal 198 jo Pasal 108 UU tentang Kesehatan dan bisa dipidana denda Rp 100 juta. (SSC-03/Red)