Suasana hari pertama di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Kota Cilegon. (Foto Dokumentasi)

CILEGON, SSC – Pademi covid-19 bukan hanya berdampak terhadap perekonomian di Kota Cilegon. Namun juga berimbas pula terhadap dunia pendidikan.

Di mana, jumlah siswa yang mendaftar ke sekolah merosot hingga 50 persen. Beberapa sekolah di Kota Cilegon yang terdampak akibat sistem pendaftaran onlind yaitu, SDN Masigit 3, SDN Gedong Dalem 1, dan SDN Kubanglesung.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Cilegon Ismatullah tak menampiknya. Dindik tengah mengevaluasi kondisi sekolah yang jumlah siswa yang mendaftar mengalami penurunan.

“Saat ini kami (Dindik Cilegon tengah mengevaluasi kinerja dari sekolah tersebut,.” kata Ismatullah, Senin (28/9/2020).

Menurutnya pendaftaran sekolah negeri menurun bukan tanpa latar belakang. Diantaranya, strategi masing-masing sekolah merekrut siswa kurang efektif dibandingkan sekolah lain. Jumlah siswa sekolah negeri jauh di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag).

Baca juga  Long Weekend, Kodim Cilegon Perketat Protokol Covid-19 di Wisata Anyer

“Kemenag buka pendaftaran lebih dulu dari kita,” ujarnya.

Oleh karena itu, beberapa upaya dilakukan Dindik dalam menjaga kualitas sekolah. Yakni dengan gencar melakukan pembinaan dan penataan dengan mengubah pola pikir, tata ruang, serta manajemen sekolah.

“Kemudian, program Dindik pun disesuaikan berdasarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing sekolah. “Misalnya sekolah ini dekat dengan kali, berarti bantuannya pembangunan pagar. Kalau kantornya kurang bagus, kantornya yang kita perbaiki,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SDN Gedong Dalem 1,Tamisih mengatakan, pihaknya hanya menerima 14 siswa baru. “Pada tahun ajaran 2019-2020, siswa kami menerima siswa baru sebanyak 28 orang. Tapi tahun ini hanya 14 orang,” katanya saat ditemui di sekolah tersebut.

Baca juga  Puslabfor Polri Turun Selidiki Kebakaran Pabrik di Cikande

Ia menduga penyebab menurunnya jumlah siswa yang mendaftar karena penerimaan siswa dilakukan dengan online dimana saat dibuka banyak walimurid sulit mengakses aplikasi.

“Di sini rata-rata wali muridnya gaptek. Padahal kami sudah fasilitasi, bisa dipandu di sekolah. Tapi mereka tetap anggap itu ruwet,” imbuhnya. (Ully/Red)