Kondisi salah satu warung kelontong yang berdekatan dengan minimarket di Kota Serang, Kamis (24/6/2020). Foto Ajat/Selatsunda.com

SERANG, SSC – Keberadaan minimarket di Kota Serang kian menjamur. Kondisi tersebut berdampak buruk terhadap para pelaku usaha mikro kecil. Terlebih saat pandemi Covid-19 belum mereda, usaha yang dijalani kebanyakan pedagang warung kelontong benar-benar terkapar.

Salah seorang pemilik warung kelontong di Lingkungan Bungur, Kelurahan Sumur Pecung Kecamatan Serang, Fadlan (23) mengaku usahanya benar-benar terpuruk semenjak berdiri banyak minimarket di dekat lokasinya berjualan.

“Warung saya ini kurang lebih sudah 5 tahunan lah jualan disini, semenjak adanya minimarket-minimarket ini, sejak tahu lalu jadi mulai menurun,” ujar dia sambil menunjuk minimarket didekat lokasi dia berjualan, Kamis (24/6/2020).

Ia mengaku, kondisk itu membuatnya kehilangan pendapatan dari 10 hingga 15 persen setiap harinya.

Baca juga  Wow, TPSA Bagendung Bakal Diaspal Gunakan Campuran Plastik Kresek

“Memang nggak menentu pendapatanya. kadang Rp 200 ribu, kadang Rp 300 ribu, kadang juga Rp 500 ribu, itu kotornya. Nah sekarang semenjak adanya minimarket jadi nurun kadang cuma dapet Rp 100 ribu kadang Rp 200 ribu,” terangnya.

Ia menyatakan, sedikitnya di lingkungan tempat berjualan terdapat 5 minimarket. Ini membuat usahanya semakin terpuruk apalagi ditengah pandemi Covid-19.

Ia berharap, Pemerintah Kota Serang bisa membuatkan regulasi yang menguntungkan bagi pelaku usaha kecil seperti dirinya. Bila perlu izin dibatasi.

“Saya berharapnya pemerintah mengatur mereka supaya tidak menjamur. Kalau ini dibiarkan gimana nasib kita ini orang kecil yang mata pencaharianya disitu,” ucapnya.

Sementara, Kepala Disperindagkop UKM Kota Serang Yoyo Wicahyono saat dihubungi tidak menjawab. Panggilan yang dituju belum direspon (MG-01/Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini