CILEGON, SSC – Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Kota Cilegon melepas ekspor empat komoditas Provinsi Banten keluar negeri. Ekspor komoditas ini sebagai upaya menjalankan program Indonesia 2045. Keempat komoditas pangan ini diantaranya kayu lapis, rumput laut, tepung jagung dan tepung gandum. Nilai ekspornya mencapai 4,9 miliar.

Kepala BKP Kelas II Cilegon, Raden Nurcahyo mengatakan, peluang ekspor komoditas di Banten sangat berpotensi besar. Hal itu dapat dilihat makin bergeliatnya komoditas yang di ekspor ke luar negeri.

“Banyak sekali. Jadi ekspor komoditas ini tidak hanya melalui hanya di BKP Cilegon. Disertifikasi diperiksa juga oleh Balai Karantina pertanian Soekarno-Hatta. Ada jengkol, petai dan buah-buahan. Dan juga rempah-rempah seperti kunyit, jahe dan sebangainya itu dari Banten,” ujarnya.

Baca : Menko Maritim Buka Pencanangan Akses Ekspor Impor di Pelabuhan Banten

Untuk mendukung peningkatan ekspor, kata dia, otoritas pelabuhan dan unsur dunia industri utamanya operator pelabuhan barang diminta dapat bekerjasama mendukung program yang dijalankan pihaknya. Upaya ini, lanjutnya, seiring juga dengan program pencanangan akses ekspor melalui pelabuhan di Banten seperti yang sebelumnya dicanangkan Kementerian Koordinator Kemaritiman pada mei 2018 lalu.

“Harapan kita, pelabuhan di Banten ini yang baru TUKS, benar-benar bisa menjadi pelabuhan internasional. Sehingga bisa ekspor dari sini. Makanya kita dorong terus menerus,” tuturnya.

Sementara itu, Managing Director PT Gumindo Perkasa Industri, Antonius Wibowo mengatakan, ekspor rumput laut yang dilakukan pihaknya sudah dijalani sejak tahun1998, setahun setelah perusahaan berdiri. Selama ini, bahan baku yang diperoleh berasal dari sumber daya alam yang ada di Banten baik wilayah Pontang, Pulau Panjang dan Banten Selatan. Rumput laut sudah diekspor ke bebapa negara diantaranya China, Jepang, Korea dan Eropa.

“Perbulan itu kita produksi 300 ton, dan rumput laut ini diolah lalu kemudian di ekspor. Sekarang ini kita sudah ekspor sampai ke China, Jepang, Korea dan Eropa,” tuturnya.

Pihaknya mengapresiasi upaya BKP membantu pihaknya dalam memenuhi dokumen perkarantinaan. Salah satu yang dimudahkan untuk ekspor yakni pemenuhan dokumen sertifikat Phytosanitary.

“Kalau dulu itu, negara penerima tidak meminta. Nah sekarang sertifkat sanitary, sudah harus dipenuhi. Dan dari karantina sudah sangat membantu kami sekali denfan penerbitannya,” pungkasnya. (Ronald/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here