CILEGON, SSC – Kerjasama PT Pelabuhan Cilegon Mandiri (PCM) dengan PT Bosowa Bandar Indonesia (BBI) nampaknya bakal tidak berlanjut untuk rencana pembangunan Pelabuhan Warnasari. Belakangan, perusahaan BUMD Kota Cilegon ini malah tengah serius melakukan pembicaraan dengan dua investor baru baik dari dalam dan luar negeri.

Direktur Utama PCM, Arief Rivai Mandawi mengakui pihaknya tengah menjajaki rencana kerjasama dengan calon investor baru. Dari sejumlah yang berminat, kata dia, ada dua investor yang tengah dijajaki serius.

“Sekarang ini yang sedang kita jajaki dari Korea dan lokal, Indonesia,” ungkapnya saat dikonfirmasi di Kantor PCM, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, Jumat(21/6/2019).

Ia menerangkan, kedua investor ini setuju bila kerjasama yang dibuat dilakukan dengan pola pembagian keuntungan atau sharing profit. Karena jika dibandingkan dengan pola komposisi saham, kata Arief, tidak begitu memungkinkan untuk dikerjasamakan. PCM menilai pola itu malah merugikan kedua pihak.

“Nggak mungkin investor datang kesini dengan membawa modal yang besar, dengan investasi besar, mereka mayoritas, malah dikasih 30 persen. Kan tidak mungkin,” tuturnya.

Rencana kerjasama sharing profit dengan investor asal Korea dan Konglomerat dari lndonesia yang tengah dijajaki ini, kata dia, mempertimbangkan banyak hal. Sharing profit, menurut dia, tidak membuat aset lahan 45 hektar warnasari berkurang. Sebaliknya, setelah melewati masa kerjasama waktu tertentu, aset PCM atas pembangunan dan pengoperasian pelabuhan warnasari yang ditanam investor justru bertambah.

Diketahui, PCM dan BBI sempat melakukan penandatangan nota kesepahaman bersama (Memorandum of Understanding), dua tahun silam atas rencana pembangunan Pelabuhan Warnasari di lahan 10 hektat. Rencana ini menyepakati kerjasama dengan pola komposisi saham mayoritas dan minoritas.

“Pola kerjasama (sharing profit) tidak menggerus dari pada sisi aset kita, tetap aset kita utuh malah bisa bertambah paling dengan sharing profit. Polanya seperti BOT, semi BOT dengan sharing profit. Mereka bangun, dari operasional itu kita mendapat profit dari itu dengan perjanjian misalnya 20 tahun. Setelah 20 tahun itu (pembangunan sarana pelabuhan) menjadi aset kita,” terangnya.

Ia menilai, pola kerjasama itu lebih menguntungkan kedua belah pihak bila dibandingkan kerjasama komposisi saham. Pola kerjasama itu juga sejalan regulasi yang berlaku.

“Itu yang lebih menguntungkan PCM. Dari sisi aturannya juga tidak akan melanggar,” paparnya. (Ronald/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here