CILEGON, SSC- Sirine peringatan dini potensi bahaya tsunami atau yang dikenal dengan Early Warning System (EWS) telah dipasang di lima kelurahan di Kota Cilegon. Pemasangan tersebut untuk memperkuat sistem peringatan dini bahaya tsunami ke masyarakat.
Walikota Cilegon, Robinsar, menegaskan pemasangan EWS merupakan bagian dari upaya memperkuat sistem mitigasi bencana di wilayah pesisir yang beririsan langsung dengan jalur rawan.
“Lima early warning system sudah terpasang dan dipastikan berfungsi. Pengoperasiannya dikoordinasikan langsung dengan pemerintah provinsi,” ungkap Robinsar, Belum lama ini ditulis Selatsunda.com, Rabu (17/12/2025).
Robinsar menyebutkan, kelima kelurahan yang telah memiliki EWS tersebut yakni Mekarsari, Lebakgede, Gerem, Kubangsari, dan Gunung Sugih. EWS itu berada di sepanjang garis pantai dan masuk kategori wilayah berisiko tinggi.
Pada 2026, kata Robinsar, Pemkot Cilegon berencana menambah empat sirene peringatan dini. Itu akan dipasang di Kelurahan Kepuh, Tegalratu, Tamansari, dan Suralaya.
“Wilayah itu juga rawan karena berada di kawasan pesisir. Penambahan sirene akan kami lakukan secara bertahap,” terang Robinsar.
Selain ancaman pesisir, Pemkot Cilegon juga mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi untuk delapan kecamatan yang ada. Berdasarkan kajian bersama BMKG, puncak cuaca ekstrem diprakirakan terjadi pada Januari.
“Sejak Oktober hingga Desember kami sudah melakukan langkah antisipasi, termasuk optimalisasi tandon dan pembersihan drainase,” paparnya.
Robinsar menerangkan, banjir di sejumlah titik di Cilegon kerap dipicu sedimentasi dan buruknya fungsi drainase. Oleh karena itu, perombakan total drainase di sejumlah ruas, termasuk kawasan Jombang dan Cibeber, telah masuk dalam rencana anggaran tahun depan.
Kepala BPBD Kota Cilegon, Suhendi mengungkapkan, kesiapan anggaran penanggulangan bencana bersifat situasional, menyesuaikan tingkat kedaruratan yang terjadi.
“Penganggaran tergantung kondisi darurat. Saat ini belum ada bencana besar,“ ungkapnya. (Ronald/Red)





