Aktivitas bongkar muat kapal di Krakatau International Port, Kota Cilegon. (Foto dok PT KBS)

CILEGON, SSC – Sebagai tindaklanjut penandatanganan MoU Awal Agustus lalu, PT Krakatau Bandar Samudera (Krakatau International Port/KIP) memulai layanan bunkering BBM Low Sulphur Fuel OIL (LSFO) perdana di Selat Sunda dengan pengisian 160 Metrik Ton (MT) atau setara dengan 175.000 Liter ke kapal MV Elona pada Jum’at (27/8).

Penjualan perdana ini disaksikan langsung oleh Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenko Marves Basilio Dias Araujo, CEO KIP M. Akbar Djohan dan Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga SH C&T Hasto Wibowo.

Bisnis maritim perdana Marine Fuel Oil (MFO) ini membuktikan strategi besar KIP untuk membangun ekosisistem bunkering migas sebagai strategi ekspansi dalam bisnis maritim di sepanjang Selat Sunda sangat berpotensi untuk direalisasikan.

“Salah satunya ekspansi ke penjualan produk BBM untuk kapal yang rendah sulfur,” kata CEO KIP Akbar Djohan.

MFO dengan kandungan sulfur maksimal 0,5 persen mass by mass (m/m) ini merupakan bahan bakar kapal yang sesuai dengan mandatori International Maritime Organization (IMO) mengenai bahan bakar kapal dengan kadar sulfur maksimal 0,5% wt yang berlaku mulai 1 Januari 2020.

“Strategi ini tak hanya diproyeksikan untuk menambah profit kepada Krakatau Steel Group, tapi ini akan memperkuat rantai pasok energi terutama migas di sepanjang Selat Sunda, dimana produk MFO dijadikan ‘engine’ baru perusahaan dalam mencapai growth yang lebih baik lagi,” tambah Akbar Djohan.

CEO KIP Akbar Djohan ini CEO memberikan kenang-kenangan kepada kapten kapal pelanggan bunkering

Mencermati besarnya peluang ekonomi yang belum dioptimalkan selama ini terutama ribuan kapal baik ukuran besar dan kargo internasional yang melintas di sepanjang Selat Sunda, Akbar meyakini bahwa “economic and opportunity loss” akibat belum adanya jasa bunkering bahan bakar minyak untuk kapal-kapal niaga di Selat Sunda berpotensi besar untuk disinergikan dengan Pertamina Patra Niaga.

Baca juga  Tabrakan di Depan Gedung DPRD Banten Libatkan Mobil Fortuner dan 2 Motor, Satu Orang Tewas

“Ini bentuk sinergi dan simbiosis mutualisme dalam rangka mendukung program pemerintah dalam mendorong produk-produk Pertamina dan memperkuat energy supply chains di Kawasan Pelabuhan Terintegrasi Krakatau” jelas Akbar Djohan dengan menegaskan bahwa komitmen KIP untuk menjadikan Selat Sunda sebagai pelabuhan strategis yang dapat melayani seluruh kebutuhan kapal dengan pelayanan berstandar internasional terus ditingkatkan dan dijaga.

“First bunkering ini bukti KIP terus berupaya kembangkan berbagai layanan yang semakin lengkap untuk penuhi kebutuhan pelayaran dan bisnis maritim di Indonesia terutama di Selat Sunda, sehingga kapal yang lewat dan singgah di Selat Sunda mudah untuk isi bahan bakarnya dan logistic services lainnya,” jelasnya.

Selain bunkering Marine fuel Oil (MFO), KIP akan merealisasikan integrated port services dengan melengkapi fasilitas pelabuhannya seperti Port Reception Facility, ship chandler, first emergency call untuk kapal dan ABK terutama di masa pandemi COVID-19, dan crew change.

”Kami terus berupaya melengkapi layanan pelabuhan Krakatau International untuk menjadi integrated port services, (upaya) ini untuk penuhi target kami melayani 5.000 kapal di tahun 2026 nanti,” tandas CEO Akbar Djohan.

Sementara itu Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga SH C&T Hasto Wibowo mengapresiasi kerjasama yang terjadi dengan KIP, karena hal ini sangat baik bagi terwujudnya kekuatan maritim Indonesia, “Sinergi dengan KBS (Krakatau International Port/KIP-red) adalah langkah strategis untuk memperkuat Indonesia sebagai poros maritim khususnya di wilayah perairan strategis kita. Dengan hadirnya layanan Pertamina di titik strategis ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi negara serta yang terpenting mampu membuktikan untuk memberikan layanan terbaik di wilayah perairan strategis kita, ke depan, target Pertamina adalah mampu bersaing dengan negara tetangga lainnya dalam jasa layanan bunkering LSFO,” pungkas Hasto.

Baca juga  Truk Tangki Air Minum Tabrak Rumah Makan dan Bengkel di Merak, Sopir Tewas Ditempat

Apresiasi juga datang dari Komisaris Utama Pertamina Basuki Thahaja Purnama (BTP).  Ia meyakini bahwa kerjasama ini dapat memberikan kekuatan bagi ekosistem perdagangan maritim di Indonesia sekaligus juga memberikan manfaat yang besar bagi industri sektor energi seperti Pertamina tersebut.

“Kehadiran layanan Pertamina di salah satu titik strategis maritim di Indonesia ini dapat mendukung pertumbuhan ekonomi negara serta membuktikan Sinergi dengan KIP adalah langkah strategis untuk memperkuat Indonesia sebagai poros maritim khususnya di wilayah perairan strategis kita,” ujar BTP.

Hal ini mendapatkan apresiasi dari Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenko Marves Basilio Dias Araujo. Ia menyampaikan ucapan terima kasih atas kerja sama yang dilakukan oleh KIP dan Pertamina Patra Niaga atas terealisasinya pelayanan ini dengan cepat.

“Saya apresiasi atas terealisasinya pelayanan ini di Selat Sunda dengan cepat. Kami yakin, kerja sama ini dapat meningkatkan penerimaan negara dan keuntungan luar biasa terutama untuk revenue negara, kesejahteraan masyarakat dan yang terpenting Indonesia siap dan mampu untuk memberikan layanan jasa MFO di wilayah perairan strategis kita.” tegasnya.

Saat ini KIP memiliki 17 jetty dengan beberapa fasilitas berstandar internasional, seperti pilotage & towage, mooring-unmooring, stevedoring, jetty management, dan integrated logistics services yang dapat melayani 800 kapal setiap tahunnya. KIP juga memiliki
Continuous Ship Unloader (CSU) berkecepatan 1.300 ton/jam yang terintegrasi dengan gudang (integrated warehouse/IWH) dengan standar food grade. Secara total, KIP dapat
melayani 25 juta ton barang curah per tahunnya dengan mengakomodasi kapal besar sampai 200.000 DWT. (Red)