CILEGON, SSC – Rencana pembangunan pabrik lanjutan pengolahan sampah di TPSA Bagendung, Kota Cilegon yang didanai Bank Dunia, pupus. Pembangunan pabrik lanjutan pengolahan sampah yang rencananya disokong Bank Dunia dengan nilai RP 102 miliar tak berlanjut setelah keluarnya surat pemberitahuan nomor PB0201-Dc/591.1 tentang pembatalan proses pembangunan tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) ISWMP Tahap III Kota Cilegon dari Direktorat Jenderal Cipta Karya pada Kementerian Pekerjaan Umum.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon Sabri Mahyudin menjelaskan, batalnya rencana pembangunan tersebut karena terdapat kebijakan dari Pemerintah Pusat. Pihaknya pun menyesalkan hal itu karena berbagai tahapan telah dilakukan Pemkot Cilegon.
“Sebenarnya kami pun sangat menyayangkan pembatalan tersebut. Yang mana semua itu sudah kami persiapkan baik pembebasan lahan, ketersedian SDM bahkan anggaran. Tapi karena ini kebijakan pusat, kami di daerah mengikuti kebijakan tersebut,” kata Sabri Mahyudin kepada Selatsunda.com, Senin (28/7/2025).
Jauh sebelum rencana tersebut dibatalkan, kata Sabri, Pemkot telah menempuh beberapa tahapan. Mulai dari pembebasan lahan dan lainnya.
“Jadi sebelum anggaran itu cair, kita (DLH) sudah melakukan pembebasan lahan untuk pembangunan seluas 1,1 hektar. Bahkan, anggaran dari APBD juga sudah kami gunakan untuk persiapan pembangunan Pabrik Pengolahan Sampah di Bagendung,” jelas Sabri.
Mantan Staf Ahli Walikota Cilegon ini mengaku, meski rencana itu batal, DLH Kota Cilegon tengah melakukan penjajakan dengan investor untuk pengolahan sampah di TPSA Bagendung.
“Saat ini sudah ada 4 investor asing yang rencana akan melakukan kerjasama untuk di TPSA Bagendung mengantikan rencana bank dunia memberikan bantuan kepada kami. 4 negara investor tersebut, yaitu, Inggris, Jepang, Singapura dan Korea. Metode kerjasama dari 4 negara investor ini pun berbeda-beda. Untuk Korea itu lebih kepada BBJP, Jepang menjadikan sampah menjadi tekanan uap, Inggris ke bantuan hulu lebih ke edukasi ke masyarakat. Nant kita akan bahas dulu. Dari Korea sudah jelas, tapi Jepang dan Inggris sedang di bahas,” ucapnya. (Ully/Red)

