Foto Ilustrasi

SERANG, SSC – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Banten mencatat selama triwulan I 2020 sebantak 143 lembar uang palsu beredar di Provinsi Banten. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan 2019 lalu sebesar 320 lembar.

Kepala Devisi Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang Rupiah dan Satuan Layanan Administrasi BI Banten Erry P Suryanto memaparkan, 143 umpal yang beredar di Banten selama 2020 dengan rincian 65 lembar pecahan Rp 100 ribu dan 77 lembar uang palsu pecahan Rp 50 ribu. Sementara untuk 2019, peredaran uang palsu sebesar 320 lembar dengan rincian 136 lembar pecahan 100 ribu dan 184 lembar pecahan Rp 50 ribu.

“Jika dilihat dari datanya, triwulan I di 2020 tidak terlalu besar dibandingkan dengan 2019. Salah satu faktornya, yakni, pendapatan masyarakat yang menurun, tidak ada pemasukan serta konsumsi masyarakat yang menurun akibat pademi covid-19,” kata Erry kepada Selatsunda.com ditemui usai acara Acara kerjasama pembayaran non tunai yang digelar di Pasar Induk Rau (PIR) Kota Serang,” Jumat (29/7/2020).
Ia menyatakan, lokasi paling rentan terhadap beredarnya uang palsu berada di pasar tradisional yang memudahkan orang tak bertanggung jawab menggunakan umpal tersebut.

“Orang kadang memanfaatkan ketidaktahuan si orang yang menerima uang. Selain melakukan transaksi non-tunai. Kami selalu gencar mensosialisasikan ciri-ciri keaslian uang kepada masyarakat,” pungkasnya.

Erry tak memungkiri, peredaran uang palsu (umpal) di Banten masih banyak ditemukan dan beredar. Untuk itu, ia berharap agar masyarakat mulai beralih menggunakan transaksi non tunai guna meminimalisir peredaran uang palsu.

“Dengan menggunakan pembayaran non tunai tentu mengurangi tingkat peredaran uang palsu. Karena, masyarakat tak perlu lagi menggunakan uang,” harapnya. (SSC-03/Red)