
TANGERANG, SSC – Kerajinan tangan di era saat ini sudah mulai langka keberadaannya. Namun tidak di Desa Buniayu, Kecamatan Desa Sukamulya, Kabupaten Tangerang, produk kerajinan bambu masih dilestarikan oleh masyarakatnya.
Di Desa Bumiayu, masyarakat membuat sentra produk kerajinan bambu yang mereka namakan Saung Bakul. Selain sebagai sentra UMKM produk bambu, saung itu juga menjadi wadah edukasi.
Salah satu penggerak kerajinan produk bambu, Murdani mengatakan, sentra ini dibangun untuk melestarikan kerajinan produk bambu yang didapat masyarakat secara turun temurun dari para pendahulu. Sentra kerajinan bambu juga dibangun untuk menjaga kearifan lokal.
“Ini adalah tempat kami memulai kerajinan bambu. Disini juga kita upaya mensejahterakan masyarakat sekitar dengan kearifan lokal,” ujar pria disapa Kang Dhany saat konferensi pers dalam kegiatan bertajuk ‘Story of Buniayu’ yang diselenggarakan Kelas Internasional London School of Public Relations (LSPR) Angkatan 27 di Saung Bakul, Sabtu (10/1/2026).
Dhany mengaku sudah belajar membuat anyaman bambu sejak kecil. Baru pada 2021 saat Covid-19, ia dan masyarakat tergerak untuk benar-benar melestarikan produk kerajinan bambu di Bumiayu dengan mendirikan membuat sentra UMKM.
Sekitar setahun kemudian, pemerintah setempat menetapkan Saung Bakul menjadi sentra edukasi. Dari pengakuan itu, sentra produk kerajinan bambu terus melakukan berbagai pelatihan dan pengembangan. Seperti mengembangkan produk peci dari anyaman bambu.
“Pada dasarnya, produk di Saung Bakul hanya produk ayaman seperti alat-alat rumah tangga. Namun melalui kegiatan, memberikan kami kesempatan, kami mencoba berinovasi dengan membuat fesyen yaitu peci dari anyaman bambu,” paparnya.
Saat dikembangkan, kata Dhani, produk anyaman bambu mulai dikenal luas di wilayah Indonesia. Ia mengakui, saat ini produk masih terus perlu dikembangkan terutama dalam pemasarannya.
Ia bersyukur, saat ini Saung Bakul digandeng oleh LSPR. Itu dilakukan untuk mengembangkan produk melalui digital training dan product development.
“Jadi dari LSPR sendiri tertarik untuk mengembangkan, karena kita masih untuk di digitalisasi memang kita masih sangat kurang. Karena pengrajin di Buniayu sendiri usianya 35, 40 sampai 50 tahun,” ungkap Dhani seraya menjelaskan peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut merupakan putera-puteri dari pengrajian yang ada di Buniayu.
Ia pun berharap agar kolaborasi dengan LSPR dapat membantu mensejahterakan ekonomi masyarakat. Di mana produk dapat dikenal secara nasional bahkan internasional.
Sementara, Ketua Penyelenggara The Story og Buniayu, Moza Febrianita mengatakan, pihaknya melalui kegiatan tersebut ingin mendorong penguatan UMKM serta keberlanjutan produk tradisional Indonesia melalui pelatihan digital dan pengembangan desain produk.
Kegiatan ini, kata Moza, bertujuan untuk memperkuat promosi digital, meningkatkan mutu desain produk, serta mendorong daya saing pengrajin lokal agar produk anyaman bambu dari Desa Buniayu dapat dikenal dan bersaing di pasar internasional.
“Kami ingin membuat produk yang relevan dengan yang sekarang. Kami ingin mencoba, memberikan inovasi bagaimana cara Desa Buniayu lebih terkenal tetapi di ranah fesyen-nya,” ucapnya.
“Ternyata dari pengrajin, mereka terbiasa anyaman bambu dengan bahan trandisoinal. Karena kami Gen Z, kami ingin mengembangkan bahan-bahan dari anyaman bambu,” sambung Moza.
Ia pun berharap, dengan kolaborasi LSPR dengan masyarakat Buniayu dapat menciptakan inovasi produk anyaman bambu, menjadi lebih beragam. Hasilnya, kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan dan kerajinan tetap dilestarikan.
“Kami harapkan supaya Desa Buniayu bisa dikenal, karena ingin membantu potensi bisa dikenal dan memajukan kesejahteraan warga dan beberapa anak mudanya bisa melanjutkan tradisi anyaman bambunya sendiri,” harapnya. (Ronald/Red)




