Bencana banjir yang terjadi di Akses Jalan Raya Tol Cilegon Barat, Kota Cilegon. Foto : Dokumentasi Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Banjir dan angin puting beliung masih tetap menghantam Kota Cilegon. Untuk itu, masyarakat diminta untuk lebih waspada terhadap bencana tersebut.

Demikian disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada BPBD Kota Cilegon, Utang Sutardi mengatakan, berdasarkan data yang dimiliki BPBD Kota Cilegon, sejak 2020, bencana banjir yang terjadi di Kota Cilegon sebanyak 10 kejadian dan angina putting beliung sebanyak 28 kejadian. Sementara, 2019 kejadian untuk bencana banjir sebanyak 10 kejadian dan angin puting beliung sebanyak 4 kejadian.

“Jika dilihat tahun 2019 dan 2020, bencana yang paling banyak terjadi di 2020. Dari 8 kecamatan di Cilegon yang paling sering terjadi bencana banjir dan angina putting beliung terjadi di Kecamatan Ciwandan dan Kecamatan Pulaumerak,” kata Utang Sutardi kepada Selatsunda.com saat ditemui di BPBD Kota Cilegon,” Senin (18/1/2021).

Ia menerangkan yang patut diwaspadai adalah ketika cuaca cerah kemudian tiba-tiba muncul awan gelap dan tebal. Awan seperti ini yang berbahaya karena bisa menimbulkan angin puting beliung dan petir. Awan jenis ini berjarak 10 kilometer dari tanah, berwarna hitam pekat dan terlihat menumpuk. Semantara untuk bencana banjir, yang patut diwaspadai adalah, sungai gorong – gorong-harus selalu di normalisasi.

Selain bencana banjir dan angin puting beliung, sambung Utang, bencana lainya tetap menghantui warga Kota Cilegon, yaitu, longsor 11 kejadian, kegagalan teknilogi 1 kejadian, kebakaran lahan 6 kejadian dan kekeringan 6 kejadian.

“Dengan banyaknya kejadian bencana yang sering terjadi di Kota Cilegon, kami (BPBD Kota Cilegon) sudah mengusulkan kepada masing-masing kelurahan untuk menyiapkan personil. Dengan personil ini, tentunya akan membantu tugas kami untuk melaporkan setiap kejadian bencana ke BPBD Kota Cilegon,” sambung Utang.

Utang menjelaskan, untuk menghadapi bencana alam, pihaknya juga meminta kepada masing-masing kelurahan untuk menyiapkan berbagai peralatan yang dibutuhkan ketika terjadi bencana. Salah satu peralatan yang dibutuhkan, diantaranya, perahu karet dan tenda darurat.

“Jadi peralatan ini tergantungt potensi bencana itu sendiri. Tapi yang jelas, tenda dan perahu karet harus dimilkiki di masing-masing kelurahan,” jelasnya.

Perlu diketahui, Badan Meteorologi, Kli­matologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan wilayah Indonesia saat ini sudah memasuki puncak musim hujan. Periode ini akan bertahan hingga Februari mendatang.

Puncak musim hujan pada Januari hingga Februari ini lantaran adanya pergerakan Monsun Asia, atau angin yang bergerak dari arah barat membawa massa udara yang lebih banyak. Monsun ini bertiup dalam kurun Oktober hingga April.  (Ully/Red).