Walikota Serang, Syafrudin diwawancarai. (Foto Dokumentasi)

SERANG, SSC – Kementerian PerhubunganĀ  berencana mengembangkan transportasi perkeretaapian di ibu Kota Banten yakni Kota Serang. Rencana itu kaitan dengan program Kemenhub mengintegrasikan sejumlah moda transportasi atau Transit Oriented Develompment (TOD) yakni mengkoneksikan moda kereta api dengan angkutan bus atau angkutan massal lainnya. Permintaan tersebut sebelumnya disampaikan Menhub, Budi Karya Sumadi kepada Walikota Serang, Syafrudin saat meninjau Stasiun Kereta Api Kota Serang, Minggu, (19/1/2020) kemarin.

Saat dikonfirmasi, Walikota Syafrudin mengenai hal itu menyatakan, permintaan Kemenhub mengintegrasikan moda kereta api dan angkutan massal di Kota Serang didukung pihaknya. Hanya saja, Pemkot masih belum mengambil kebijakan kaitan permintaan tersebut.

Menurut Syafrudin, pengembangan kawasan antarmoda di Stasiun Kereta Api yang ada Cimuncang, Kecamatan Serang dinilai tidak begitu layak untuk dikembangkan TOD. Opsi lokasi yang lebih layak dan representatif dibangun sebagi kawasan koneksi antarmoda adalah di wilayah Kampung Bogeg, Kelurahan Banjaragung, Kecamatan Cipocok.

“Kalau saya berharap, stasiun kereta api itu ada di Bogeg. Kenapa disitu, karena disitu lebih strategis dan dekat terminal, lahan juga masih banyak. Disitu lebih representatif,” ujarnya, Senin (20/1/2020).

Baca : Menhub Kunjungi Banten, Bahas Mulai Kereta Api Listrik, TOD Hingga Pelabuhan Warnasari

Menurut Syafrudin, pertimbangan lokasi di Bogeg lebih represntatif karena areal lahan yang tersedia masih luas dan belum padat pemukiman penduduk. Disamping itu, lokasi juga tidak jauh dari Terminal Pakupatan yang sudah tersedia sarana transporasi bus. Syafrudin menyatakan, jikapun nanti stasiun terbangun di Bogeg, pengembangan untuk pemukiman baru, area perkantoran dan lainnya bisa lebih terbuka.

“Jadi selain tidak membebaskan rumah, lahan masih kosong dan stasiun dipinggir kota. Disitu ada kantor dewan, jalur bus dan juga terminal dekat. Disana juga kan bisa pegembangan,” paparnya.

Menurut Syafrudin, pengembangan antarmoda di Stasiun Kereta Api, Cimuncang tidaklah representatif. Karena selain lahan parkir sempit, bus juga sulit masuk di lokasi tersebut.

“Ketika melihat tempat parkir divstasiun itu, nggak memenuhi standar. Kata pak menteri, minta yang (pemukiman) disitu dibebaskan. Saya bilang, itu nggak mudah. Karena da pemukiman, dan belum tahu itu lahan KAI atau bukan. Memang kalau untuk angkutan kota, saya bisa buka ke jalur Cilame. Tapi bus sulit disitu. Rumit juga kalau disitu jalur bus,” paparnya.

Opsi lokasi di Bogeg itu, kata Syafrudin masih belum final. Pihaknya masih perlu membahas dengan sejumlah OPD terkait. Pembahasan ini baru sebatas pemetaan. Nantinya, bila opsi lokasi sudah final barulah akan diusulkan ke Kemenhub.

“Saya ingin mengajak ngobrol dahulu tentang keberadaan stasiun sekarang ini dengan OPD. Kalau dipindah, kita harus bicara kedepan itu bagaimana. Sifatnya kita hanya mengusulkan, realisasinya disana (Kemenhub),” pungkasnya. (Ronald/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here