Wakil Ketua I DPRD Kota Cilegon, Hasbi Sidik saat di wawancara awak media di kantornya, Selasa (7/9/2021). Foto Ronald/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Wakil Ketua I DRPD Kota Cilegon, Hasbi Sidik menyorot soal Pengadaan Ambulance Gawat Darurat yang gagal lelang dua kali hingga berakhir dengan penunjukan langsung (PL) rekanan oleh RSUD Cilegon.

Hasbi mempertanyakan mengapa pengadaan ambulance diawal  kepemimpinan Walikota dan Wakil Walikota Cilegon, Helldy Agustian-Sanuji Pentamarta  terjadi gagal lelang. Semestinya lelang bisa berjalan baik dengan penunjukan pemenang. Namun yang terjadi malah dilalui dengan mekanisme PL.

“Ini bentuk hal yang tidak baik kepada pak Helldy sebagai kepala daerah. Kenapa di awal jabatan, ada kegagalan lelang,” ujarnya dikonfirmasi saat di ruang kerjanya, Selasa (7/9/2021).

Hasbi selama menjabat anggota DPRD dalam 2 periode mengaku, lelang pekerjaan di Cilegon jarang sekali terjadi kegagalan. Meski memang pada pemerintahan sebelumnya sempat terjadi kondisi yang sama seperti pada lelang pembangunan Gedung Setda Baru. Namun Politisi Partai Gerindra ini masih cukup heran mengapa pengadaan ambulance bisa gagal lelang hingga dua kali.

Baca juga  Miris ! 7 KK di Cilegon Tinggal di Gubuk Beralas Triplek dan Tak Punya MCK

“Memang gagal lelang jarang terjadi, tapi ketika mendengar, itu seperti lelang yang besar seperti dulu gedung setda. Saya tidak tahu lelang ini (ambulance) dalam tanda kutip gagal lelang. Masak sih tidak ada peserta, atau syaratnya tidak lengkap, kurang adminstrasi,” tuturnya.

Memang, kata Hasbi, mekanisme PL dapat ditempuh jika suatu pekerjaan yang dilelang ulang gagal. Ia masih berpandangan positif bahwa PL rekanan oleh RSUD terkait pengadaan ambulance ditempuh karena kebutuhan mendesak.

Namun ia mewanti-wanti Pemkot Cilegon jangan menjadikan PL sebagai celah aturan jika pekerjaan gagal dilelang. Ia tidak menginginkan persoalan timbul dikemudian hari untuk pemerintahan.

“Ini menjadi wanti-wanti kita semua. Jangan ini menjadi celah. Saya tidak suudzon, tapi saya sebagai kontroling, ini harus dihindari.
Kalau nanti ada masalah dikemudian jari, maka akan tidak baik untuk pemerintahan,” terangnya.

Hasbi tidak hanya menyorot soal gagal lelang namun nilai pengadaan ambulance dianggapnya juga fantastis. Untuk harga pengadaan sebuah ambulance dengan peralatan alkes senilai Rp 2,3 miliar, dinilainya tidak wajar meski kebutuhannya mendesak.

Baca juga  Kota Cilegon Kerap Banjir, Ternyata Ini Penyebabnya!

“Kalau satu unit, ini fantastis harganya. Kalau setahu saya dari harga pasaran Rp 500 juta. Memang mobil itu sangat emergency. Tetapi itu cukup sangat fantastis meskipun sama alkesnya. Kalau 2 mobil dengan nilai itu, mungkin wajar,” bebernya.

Pada pemberitaan sebelumnya, pengadaan Ambulance Gawat Darurat senilai Rp 2,33 Miliar yang diusulkan RSUD Cilegon kandas ditenderkan. Lelang pengadaan ambulance yang  bersumber dari APBD 2021 ini dua kali gagal lelang. Bahkan saat dilakukan tender cepat oleh Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Setda Kota Cilegon, pengadaan tidak dapat terealisasi.

RSUD Cilegon setelah pekerjaan tersebut gagal lelang kemudian menempuh mekanisme penunjukan langsung (PL) rekanan. RSUD kepada rekanan menetapkan ambulance menggunakan kendaraan merek Toyota berjenis HiAce terbaru. (Ronald/Red)