Suasana aktivitas para siswa di SMKN 3, Cilegon, (23/4/2018). Pembangunan Jalan Lingkar Utara (JLU) akan membelah Lokasi SMKN 3. Ronald Siagian / Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Pemerintah Kota Cilegon tampaknya cukup berat untuk mengambil keputusan membayar kompensasi lahan SMK Negeri 3 yang terkena dampak pembangunan Jalan Lingkar Utara (JLU).

Diketahui, rencana pembangunan mega proyek infrastruktur jalan sepanjang 12,5 kilometer itu akan membelah lahan dan gedung SMKN 3 yang ada di Lingkungan Tunjung Putih, Kelurahan Gedong Dalem, Kecamatan Jombang, Cilegon.

Menanggapi itu, Plt Walikota Cilegon, Edi Ariadi mengatakan, hingga saat ini permasalahan SMKN 3 masih belum dapat terselesaikan. Rencana Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Provinsi Banten di Cilegon yang meminta kompensasi lahan untuk disegerakan, kata Edi, dinilai tidak begitu berdasar sekalipun aset sekolah yang dulunya milik pemkot itu, saat ini telah diserahkan ke Provinsi Banten sebagai amanat dalam menjalankan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah. Penyelesaian itu, sambung Edi,   akan dilakukan secara bertahap.

“Belum (terselesaikan, red). Harusnya jangan begitulah provinsi, itu kan tanah kita dulunya. Dia minta bangun inilah, itu lah. Ngga gitu juga. Bertahap saja,” Ungka Edi ditemui di Hotel Grand Mangku Putera, Senin (23/04/2018).

Tahapan yang dimaksud untuk menyelesaikan lahan SMKN 3 serta permasalahan lahan lainnya, beber Edi, harus melalui proses verifikasi yang tidak mudah dan tidak cepat. Proses itu perlu verifikasi dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Cilegon.

“Makanya BPN harus segera, BPN harus bagaimana solusinya. kan berarti ada biaya tambahan, seperti saya bilang. Harus bikin ini, bikin itu, ada kelas segala macam,” Paparnya.

Pembangunan JLU diketahui akan membelah lahan SMKN 3 yang ada. Pembangunan jalan itu akan menggunakan lahan sekolah seluas 2.215 meter persegi dari total luasan lahan sekitar 1,8 hektar. Dampaknya pun akan mengakibatkan sejumlah ruang kelas, lapangan basket, Toilet dan fasilitas lainnya, hilang. Edi meminta, agar KCD tidak mendesak pihaknya untuk menyelesaikan itu dengan cepat. Semestinya, sambung Edi, KCD tidak mendesak itu namun justru diharapkan dapat mendukung pemkot Cilegon dalam mendorong percepatan pembangunan JLU.

“Belum lagi dia ngomong terpisah ruangan (kelas, red) ininya, terbagi. Saya pikir dia (KCD, red) membantu kita, kan tidak ada masalah. Kan begitu seharusnya dibilang. Toh ini juga hibah dari kita. Tahu dirilah gitu, harus tahu dirilah,” Tegas Edi. (Ronald/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here