Walikota Cilegon, Edi Ariadi dan General Manajer PT Lotte Chemical Nusantara, Marijono sekaligus perwakilan PT Lotte Chemical Indonesia di Cilegon menjelaskan peramalahan Lotts yang belakangan dibicarakan banyak pihak, Rabu (17/7/2019). Foto Ronald/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) nampaknya berpikir kembali membangun pabrik di Kota Cilegon lantaran peliknya permasalahan yang dihadapi. Masalah ini lebih menyangkut kerjasama Bussiness to Bussiness (B2B) dengan PT Krakatau Steel (KS) terkait pemanfaatan lahan perluasan pabrik yang banyak menemui kendala. Pembahasan kerjasama lahan yang akan digunakan untuk reklamasi pabrik asal Korea ini masih berlarut-larut dan tak berkesudahan.

Hal ini terungkap saat pihak LCI bertemu Walikota Cilegon, Edi Ariadi di Kantor Pemerintahan Kota Cilegon, Rabu (17/7/2019). Tampak hadir dalam pertemuan itu, General Manajer LCI Kota Cilegon, Park Jong Do, General Manajer PT Lotte Chemical Titan Nusantara (LCTN), Marijono dan staf, Nurman Hakim.

Walikota Cilegon, Edi Ariadi mengatakan, pertemuan pihaknya dengan Lotte ini membahas berbagai persoalan yang belakangan dibicarakan banyak pihak. Pembicaraan ini menyangkut keberadaan manggrove, pembuangan lumpur ke lahan Pelabuhan Warnasari hingga rencana aktivitas pengerukan pasir laut.

Menurut Edi, pegurugan manggrove dinilai sudah tidak lagi terdapat masalah karena Lotte akan melakukan penanaman kembali di Desa Karangantu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Begitupun kerjasama Lotte dengan BUMD Kota Cilegon yakni PT Pelabuhan Cilegon Mandiri (PCM) terkait pemanfaatan lumpur Lotte di lahan Pelabuhan Warnasari juga dinilainya terjalin baik. Seluruh aktivitas itu telah sesuai aturan Dinas Lingkungan Hidup Cilegon.

Mengenai rencana aktivitas pengerukan pasir laut, Edi tak menampik jika pihaknya menolak aktivitas itu namun disisi lain kegiatan itu juga memberi manfaat untuk warnasari. Saat ini pemkot hanya bisa mengikuti aturan karena perizinannya terkait Surat Izin Kerja Keruk dan Reklamasi (SIKR) berada pada kewenangan pemerintah pusat.

“Gosong serdang (pelabuhan warnasari) memang dibicarakan. Saya bilang, saya nggak mau (aktivitas pengerukan pasir laut). Tapi kan dermaga Lotte itu kan didalami, di-driging. Sekarang kan kedalamnnya 14 meter, akan dijadikan 20 meter, otomatiskan disedot. Nah sedotan itu masuk ke Lotte. PCM kebagian, 3 juta meter kubik. Jadi izinnya itu bukan saya, izinnya di Kementerian. Berarti saya mendapat hal-hal positif dan membantu kita,” tuturnya.

Edi menuturkan, masalah yang pelik saat ini dihadapi Lotte lebih menyangkut persoalan tanah di lahan rekalamasi. Lahan yang tadinya akan dikerjasamakan Lotte dengan KS justru bersengketa dengan banyak pihak. Lahan itu saat ini berstatus quo oleh pemerintah. Adanya banyak kendala ini, kata Edi, pihak Lotte menyatakan akan berpikir kembali untuk melanjutkan investasinya membangun pabrik.

“Kata Lotte nih tadi tuh, kalau perlu dilanjutin..dilanjutin. Kalau nggak, juga nggak apa-apa, Lotte. Paling rugi beli tanah, pengerukan dan sebagainya. Kalau kita kan sayang donk, nanti tenaga kerja kita nggak ada yang diserap. Tadi KS juga ribut (soal demonstrasi buruh) juga,” paparnya.

Sementara itu, General Manajer PT Lotte Chemical Nusantara, Marijono sekaligus perwakilan LCI Cilegon mengatakan, sampai saat ini Lotte sudah mengikuti aturan yang berlaku. Diantaranya, solusi mengenai 3.000 pohon manggrove di lahan sekitar 1,1 hektar yang diurug akan diganti 5 kali lipat di lokasi lain.

“Anjuran dari pemerintah, ya udah ditanam 3 kali. Kita bukan tanam 3 kali tapi 5 kali,” terangnya.

Ia menerangkan, persoalan manggrove telah diselesaikan. Hanya saja saat ini, B2B Lotte dan KS menyangkut lahan terutama di lokasi lahan reklamasi diakui pihaknya masih belum terselesaikan. Awalnya Lotte menyebut area tersebut sudah menjadi laut dan dapat dimanfaatkan namun sebaliknya KS tidak menyatakan demikian.

“Itu diakui oleh KS bahwa daerah yang direklamasi itu adalah tanah miliknya KS semenjak dulu padahal itu laut. Sesuai dengan aturan kan, kalau laut kan bukan milik pribadi, tapi milik negara,” paparnya.

Masalah ini pun kata dia belum menemui titik temu. Bahkan terakhir pembahasan tentang lahan itu kembali dibahas di Kementerian Perhubungan. Hingga saat ini, penetapan lahan itu diketahui masih menunggu keputusan Kementerian ATR/BPN.

“Sudah (dibahas dengan KS), masih belum selesai. Masih panjang. Itu ada di BPN dan Kementerian, masih panjang,” tuturnya.

Ia tak menampik permasalahan Lotte yang terjadi ini sama seperti yang disampaikan Walikota Cilegon. Jika masih terus menerus terkendala, kata dia, Lotte akan berpikir kembali membangun pabrik maupun melanjutkan investasi di Cilegon.

“Apa kata pak Walikota tadi memang benar. Kalau kita nanti tidak selesai dan banyak masalah, banyak masalah, ya sudah, tinggalin,”
tandasnya. (Ronald/Red)

Komnetar anda tentang berita diatas?