Warga berusaha melintasi banjir yang terjadi di Cilegon. Foto : Dokumentasi Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Walikota Cilegon, Helldy Agustian melakukan rapat koordinasi antisipasi banjir dengan OPD di ruang rapat Walikota Cilegon, pagi tadi. Setelah dirapatkan ternyata terungkap salah satu penyebab banjir adalah bantaran sungai banyak dibangun warga bangunan liar.

Menurut Helldy, mendirikan bangunan di bantaran sungai adalah melanggar garis sempadan sungai. Oleh karenanya, Pemkot akan menertibkannya agar banjir dapat ditanggulangi.

“Nanti kita (Pemkot Cilegon) mau buat aturan dan tim yang jelas. Apabila ada rumah tidak ada IMB (Izin Mendirikan Bangunan) dan sertifikat rumah. Kalau rumah itu berdiri di bantaran sungai dan tidak ada surat-suratnya kita sikat/tertibkan. Jangan gara-gara 1 bangunan semua hancur (banjir),” kata Helldy kepada awak media usai rapat,” Senin (27/9/2021).

Baca juga  RSUD Cilegon di Pusaran Bisnis RS Swasta, Pendapatan Drop 4 Tahun Terakhir, Semester I 2021 Hanya Capai Rp 26 Miliar

Helldy menuturkan, oleh karena masalah tersebut, banjir kerap terjadi. Bantaran sungai tidak boleh dialih fungsikan dan harus sesuai peruntukannya.

“Kalau penjelasan dari PU, titik banjir banyak banget tuh. Jumat (1/10/2021) mendatang, kita akan rapatkan lagi,” ujar Helldy.

Helldy berharap, normalisasi ini akan menjadi solusi untuk menanggulangi banjir yang terjadi di Cilegon saat hujan deras.

Sementara, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPU-TR) Kota Cilegon, M Ridwan memaparkan, berdasarkan data yang dimiliki DPUTR Cilegon, titik banjir di Cilegon semakin bertambah. Pada 2020 lalu, titik banjr di Cilegon sebanyak 58 titik. Pada tahun ini 2021 bertambah menjadi 96 titik.

“Sebelumnya ada 58 titik banjir. Tahun ini udah nambah menjadi 96 titik. Semakin bertambahnya titik banjir ini karena banyaknya pendangkalan dan penyempitan lahan, mulai berubahnya luas lahan, banyaknya pendirian industri dan banyaknya bangunan liar yang dibangun di bantaran sungai,” jelas Ridwan. (Ully/Red)