Warga di Lingkungan Tembulum, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon antre untuk mendapatkan bantuan air bersih. Foto Dok Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Sedikitnya 3 dari 4 kelurahan yang ada di Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau tahun ini. Ketiga kelurahan itu yakni Kelurahan Mekarsari, Kelurahan Lebak Gede dan Kelurahan Suralaya.

Camat Pulomerak, Hoero Sanjaya mengatakan, pihaknya selama musim kemarau ini telah memetakan terdapat 3 kelurahan di Kecamatan Pulomerak yang mengalami krisis air bersih.

“Yang terdampak di Kecamatan Pulomerak ada 3 kelurahan. Kelurahan Mekarsari, Lebak gede dan Suralaya,” ujarnya, Rabu (13/9/2023).

Hoero menyakatan, kebanyakan warga yang terdampak krisis air tinggal di wilayah pegunungan. Untuk Kelurahan Mekarsari, ada sejumlah lingkungan yang terdampak. Beberapa diantaranya Lingkungan Gunung Batur 1, Gunung Batur 2, Lingkungan Gunung Tembulum, Lingkungan Sumur Pring dan Lingkungan Ciporong.

Kemudian di Kelurahan Lebak Gede, lingkungan yang terdampak diantaranya Lingkungan Cipala, Lingkungan Penawen, Linkungan Watu Payung dan Linkungan Peguyangan Banteng.

Untuk wilayah Kelurahan Suralaya, lingkungan yang terdampak krisis air yaitu Lingkungan Kubang Kepuh, Lingkungan Pringori, Lingkungan Cubul, Lingkungan Jelawe, Lingkungan Cisuru dan sejumlah lingkungan lainnya.

Selama musim kemarau ini, kata Hoero, warga yang terdampak memanfaatkan sumur bor yang ada. Selain itu juga warga mendapatkan air bersih dari bantuan pemerintah dan swasta.

“Kalau seperti permasalahan kekeringan di Gunung Batur 1 dan 2, itu dulu untuk MCK ada bantuan distribusi air dari bawah. Tapi kalau untuk konsumsi tidak layak, karena agak asin. Untuk sementara mereka ambil untuk kebutuhan sehari-hari dari beberapa sumber air. Yakni Sumur Bendum dan Sumur Gedok,” terangnya.

“Kemudian seperti di Lingkungan Tembulum untuk konsumsi, mereka memanfaatkan tadah hujan. Ada juga dari beberapa sumber air, tiga sumber air Sumur Dadap, Sumur Tonggoh Sumur Sor. Selama kekeringan ini hanya sumur Dadap yang masih keluar sumber airnya, walaupun tidak banyak,” sambungnya.

Hoero menjelaskan, pihaknya selaku bagian dari pemerintah berupaya agar warga dapat terpenuhi air bersih. Secara jangka pendek, pemerintah daerah terus memberikan bantuan air bersih dibantu juga oleh swasta.

Saat ini juga, Hoero menyatakan, pihaknya sedang mengusulkan upaya penanganan krisis air bersih secara jangka panjang. Salah satu yang dilakukan yakni dengan mengusulkan pembangunan instalasi pipa air yakni di Lingkungan Kepindis. Yakni merencanakan pembangunan instalasi pipa dari sumur bor milik seorang warga untuk mengaliri air ke warga di Lingkungan Penawen dan sekitarnya.

“Penawen ini dekat dengan Lingkungan Kepindis. Disana ada warga namanya pak Haji Nur yang mempunyai sumur bor 4 unit dan hasilnya bagus dan izin lengkap. Saya wacanakan kerjasama dengan pak Haji Nur ini. Hanya saja dia cuma punya air, tapi instalasi tidak sanggup (dibangun) karena anggaran besar. Makanya kita konsultasi dengan PU, agar instalasi bisa dibangun pemerintah. Makanya kita akan usulkan, kerja sama antara kecamatan BPKAD dan dinas PUPR. Sehingga dapat dianggarkan tahun berikutnya,” tuturnya.

“Kemudian kedua ada bantuan PT KTI yang ke IP, instalasi yang ada di Cipala. Nah ini ada peluang kita coba aliri ke Haji Nur, inject ke Cipala ini. Kita sedang diskusikan dengan PDAM, seperti apa skema dan hitungannya,” sambungnya.

Memang, kata Hoero, saat ini pemenuhan air bersih bagi warga yang terdampak jauh dari ideal. Dengan upaya jangka pendek yang rutin dilakukan dan upaya jangka panjang yang akan diusulkan pihaknya diharapkan kebutuhan air masyarakat yang tinggal di pegunungan terpenuhi.

“Jadi seperti yang akan dikerjasamakan ini di Kepindis, menurut saya bagus. Tiga fungsi berjalan baik pemerintah, swasta dan masyarakat,” harapnya. (Ronald/Red)