Suasana dna kondisi Pelabuhan Merak, Kota Cilegon jelang arus mudik, belum lama ini. Foto Ronald/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Opsi untuk mengurai antrean kendaraan pada Pelaksanaan Angkutan Lebaran 2019 di Pelabuhan Merak lewat trayek Pelindo II Banten – Pelabuhan PT Bandar Bakau Jaya (BBJ) diurungkan untuk dilaksanakan. Opsi ini tidak dilaksanakan karena sejumlah aspek salah satunya mempertimbangkan faktor kesesuaian dermaga di Pelindo Banten yang bukan merupakan dermaga penyeberangan.

“Secara teknis dengan kondisi dermaga yang ada agak susah dioperasikan kapal-kapal roro. Karena faislitas bongkar muatnya berbeda dengan yang di (Pelabuhan) Merak. Sehingga kita rapat lagi untuk mencari alternatif lain di merak,” ujar Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah VIII Banten, Nurhadi usai rapat bersama ASDP, Gapasdap, INFA, KSOP di Kantor KSOP Banten, Jumat (24/5/2019).

Diketahui, opsi ini tercetus oleh BPTD sebagaimana maksud arahan yang disampaikan Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi saat rapat koordinasi di Dermaga Eksekutif, Pelabuhan Merak, Sabtu (11/5/2019) lalu. Untuk mengantisipasi antrean kendaraan pemudik, Menhub menyampaikan salah satu strategi dapat dilakukan dengan memanfaatkan pelabuhan di sekitar Pelabuhan Merak.

Opsi pemanfaatan trayek Pelindo Banten-BBJ yang telah dikaji itu akhirnya diputuskan BPTD tidak dilanjutkan. Di dalam kesepakatan rapat antara otoritas pelabuhan dan operator kapal di Pelabuhan Merak terdapat poin-poin yang disepakati. Beberapa poin diantaranya, dermaga alternatif, PT Pelindo Banten, PT KBS, PT IKPP yang dicek dan disurvei tidak memungkinkan untuk disandari kapal-kapal roro (penyeberangan) yang saat ini beroperasi di Pelabuhan Merak-Bakauheni.

Baca : Antisipasi Antrean Pemudik di Pelabuhan Merak, BPTD Banten Gandeng Pelabuhan Sekitar

Sementara poin lain yakni upaya untuk meningkatkan kapasitas maka dermaga 4, 5 dan 7 di Pelabuhan Merak akan dioperasikan berpasangan dengan dermaga 5 dan 6 Pelabuhan Bakauheni, dengan pola operasi 45 menit port time di Pelabuhan Merak, 30 menit port time di Pelabuhan Bakauheni dan Sailing Time 120 menit. Di dermaga Merak muat tanpa bongkar, sedangkan di Bakauheni bongkar tanpa muat.

“Tadi kita sudah disepakati pola operasinya untuk dua dermagayang di Merak hanya muat saja, kita bongkar di Bakauheni. Untuk di bakau, bongkar tanpa kuat. Jadi begitu muat di merak, bongkar di bakauheni, balik dengan keadaan kosong,” sambung Nurhadi.

Nurhadi menyatakan, upaya untuk mengantisipasi antrean itu dengan mengacu pada prediksi lonjakan jumlah pemudik pada tahun ini. Bersamaaan dengan rencana tersebut, sejumlah dermaga di Pelabuhan Bakauheni belum dapat dimaksimalkan.

“Demand mudik, antara (pelabuhan) merak dan bakauheni, itu kan tidak seimbang. Jadi di Merak kita operasikan penuh, di Bakauheni yang muat di Bakauhenj hanya 4 dermaga. Yang dua(dermaga)-nya ngga muat,” terangnya.

Sementara, Ketua DPC Gapasdap Merak, Togar Napitulu mengatakan, opsi Trayek Pelindo Banten-BBJ belum dapat digunakan untuk membantu antisipasi antrean di Pelabuhan Merak. Selain jarak tempuh yang jauh, pelayanan pada opsi rencana trayek itu juga membutuhkan waktu lama.

“Itu kan 50 mil, bisa makan waktu 5 sampai 6 jam. Belum lagi melawan arus. Ini baru berlayar saja, belum termasuk waktu bongkar muat,” tandasnya.

Selain itu, kata Togar, hal lain seperti kesesuaian dermaga di Pelindo Banten yang biasa melayani kapal barang dinilai belum dapat sesuai bila difungsikan untuk kapal penyeberangan. Bila opsi itu dijalankan, menurut dia, diperkirakan akan menimbulkan risiko yang besar bagi penumpang.

“Safety tidak ada masalah, cuman terpengaruh juga pada pasang surut. Saat surut tajam. Kapal roro ferry ini bukan seperti kapal scraft, ramp doornya tidak seperti mereka,” paparnya.

“Jangan sampai niat kita mau mengurangi (antrean) dari sini (pengalihan penumpang di Pelabuhan Merak ke Pelindo Banten), malah nanti terlalu beresiko. Itu yang kami sarankan,” terangnya. (Ronald/Red)

Komnetar anda tentang berita diatas?