Foto Walikota Cilegon, Edi Ariadi dengan Kandidat dua Calon Wakil Walikota, Ratu Ati Marliati dan Reno Yanuar. (Desain Foto Selatsunda.com)

CILEGON, SSC – Suara dari 34 anggota dewan di DPRD Kota Cilegon akan menjadi sorotan publik dalam Pemilihan Calon Wakil Walikota yang akan diselenggarakan di DPRD Cilegon, Jumat (12/4/2019), siang ini. Kedua kandidat Calon Wakil Walikota, Ratu Ati Marliati dan Reno Yanuar yang berkontentasi untuk mendampingi Walikota Cilegon, Edi Ariadi akan saling berebut suara terbanyak.

Pengamat Politik di Banten, Suwaib Amirrudin mengatakan, pemilihan wakil walikota nanti akan berjalan dinamis. Salah satunya mengenai komitmen partai politik yang telah dibangun untuk mendukung salah satu calon, kata dia, belum tentu sesuai harapan saat pemilihan berlangsung. Karena suara pemilihan bergantung pada individu anggota dewan yang duduk di parlemen. Suwaib yang juga Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas SA Tirtayasa memperkirakan suara fraksi bisa tidak akan utuh dan terpecah pada pemilihan nanti.

“Bisa saja terjadi suara fraksi terpecah, karena tradisi parpol kita, per hari ini, parpol bukan lagi rumah bagi legislatif. Tetapi parpol itu adalah bagian dari cantolan bagi legislatif duduk di parlemen,” ungkap Suwaib.

“Jadi komitmen politik, itu tidak bisa menjadi jaminan. Jaminannya itu, kalau calon wakil walikota berkomunikasi paling penting kepada individu, individu anggota legislatifnya. Karena sekarang ini tawar menawarnya cenderung pragmatis secara individu (anggota dewan), bukan lagi ke partai politik,” sambungnya.

Segala kemungkinan di dalam pemilihan wakil walikota ini, papar dia, bisa saja terjadi. Menurutnya, fraksi-fraksi di parlemen yang tadinya mengusung Kepala Daerah Kota Cilegon periode 2016-2021, belum tentu sepenuhnya mendukung calon wakil walikota yang saat ini maju mencalonkan diri. Prediksi dia, akan ada anggota yang mendukung dan tidak mendukung calon yang diusung parpol.

“Anggaplah misalnya Partai Golkar pendukung salah satu calon, belum tentu anggota legislatifnya, ada di garis partai. Itu bisa terjadi. Begitu juga dengan misalnya PDIP. Kita tahu juga PDIP, pengusung walikota kemarin, belum tentu solid ke calon yang ditentukan oleh partai,” paparnya.

Baca : Membelot di Pemilihan Wakil Walikota, Fraksi Golkar Cilegon Rekomendasikan Anggota Diberhentikan

Kecenderungan anggota fraksi yang membelot dari komitmen parpol, kata dia, bukan tanpa latar belakang. Karena pada situasi saat ini, banyak anggota legislatif lebih mementingkan pileg dan pilpres ketimbang lobi-lobi pemilihan wakil walikota.

“Pileg dan pilpres itu kan merupakan pertandingan hari ini yang hangat. Bisa saja, perhatian anggota, bisa saja (saat pemilihan) tidak datang. Pemilihan wakil walikota ini bukan lagi magnet yang penting saat ini. Sekarang ini, legislatif cenderung menyelamatkan pileg dan pilpres,” paparnya.

Hal lain seperti figur dan kriteria dari wakil walikota yang dipilih, lanjutnya, juga menjadi alasan mengapa anggota fraksi bisa beralih haluan dengan keputusan parpol. Menurutnya, seorang anggota fraksi akan cenderung memilih figur calon yang dapat mengakomodir dua kepentingan, baik legislatif dan eksekutif.

“Wakil walikota ini mampu membawa, mengakomodir pada dua kepentingan. Dua kepentingan ini baik legislatif dan eksekutif, itu yang sangat penting. Kalau misalnya (anggota dewan) yang mau memilih dan merasa nyaman kebutuhan di birokrasi dan legislatif, (kriteria calon) itu yang dominan akan dipilih,” pungkasnya. (Ronald/Red)

Komnetar anda tentang berita diatas?