Direktur utama PT KS Silmy Karim (pertama dari kiri) bersama Deputi Bidang Usaha Pertambangan industri strategis dan media pada Kementrian BUMN Fajar Hari Sampurno (tengah) Plt Direktur Industri Logam Ilmate pada Kementrian Perindustrian Doddy Rahardi saat menyalakan api perdana Blast Furnace,” Kamis (20/12/2018). Foto Elfrida Ully/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – PT Krakatau Steel (KS) akhirnya mengoperasikan pabrik Blast Furnace yang ada di Kawasan Industri PT KS, Kota Cilegon, Kamis (20/12/2018). Pabrik yang diklaim sebagai bisnis baja terbesar di Indonesia ini mampu menghasilkan baja hingga 4,5 juta ton per tahun.

Direktur Utama PT KS, Silmy Karim mengaku sangat bersyukur dengan dioperasikannya Blast Furnace dipenghujung tahun 2018 ini sekalipun dalam perjalanan pembangunannya menemui kendala.

“Ini awal di akhir 2018 di mana, akhirnya kami (PT KS,red) mampu merampungkan Bisnis Blast Furnace. Meski, sempat terjadi kendala yang membuat bisnis ini mengalami keterlambatan berproduksi. Tapi, alhamdulilah berkat doa semua pihak, akhirnya bisnis ini pun dapat beroperasi dengan lancar,” kata Silmy disela kegiatan Penyalaan Perdana Blast Furnace PT KS, Kamis (20/12/2018).

Adanya pabrik Blast Furnace ini, kata Silmy, menjadi salah satu yang menyokong keterbutuhan baja secara nasional. Diharapkan produksi bajadsri pabrik ini yang mencapai 4,5 juta ton per tahun dapat mendukung pemenuhan target nasional 10 juta ton hingga 2025.

“Kalau di total kan secara keseluruhan dengan keberadaan Blast Furnace sebanyak 4,5 juta ton per tahun. Adapun keinginan dari pemerintah pusat yang menargetkan 10 juta ton per tahun ini, akan kita upayakan pembangunan secara bertahap. Karena, 10 juta per ton ini merupakan amanat dan rencana strategis dari Pak Presiden (Joko Widodo) yang berkeinginan 10 juta ton bisa beroperasi,” jelasnya.

Selain Blast Furnace, lanjutnya, PT KS juga berencana akan meresmikan Hot Strit Mill 2
(HSM#2). Pabrik yang akan diresmikan april 2019 ini mampu menghasilkan baja 1,5 juta ton. “Ini juga akan menambah produksi kapasitas baja kita,” katanya.

Dia menyatakan bahwa setelah melakukan penyalaan perdana dan memasukkan bahan baku, maka kemudian pada awal Januari 2019 sudah mulai menghasilkan produk.

“Selama enam bulan kedepan kita bertahap, biasanya dimulai dari 30 persen produksi, kemudian naik, terus naik, enam bulan kemudian 100 persen,” terangnya.

Ia mengungkapkan bahwa pembangunan Blast Furnace memakan biaya investasi sekitar sekitar 1 miliar USD. Ia mengaku, keberadaan pabrik ini juga mampu menghemat biaya produksi sekitar 58 USD per ton.

“Selain penurunan biaya kita juga memiliki satu teknologi baru. Blast Furnace ini teknologi pertama di PT Krakatau Steel, walaupun di PT Krakatau Posco ada yang merupakan perusahaan Joint Venture kita,” katanya.

Ia menuturkan, jika PT KS selama ini masih menggunakan teknologi Electric Arc Furnace (EAF) dimana bahan bakarnya menggunakan gas. Sehingga biaya produksinya lebih tinggi.

“Adanya Blast Furnace ini kita akan mengurangi ketergantungan pada EAF. EAF ini memang punya kelebihan kapan saja hidup dan mati, namun dengan Blast Furnace kita memiliki biaya lebih rendah dan bisa hidup selama 24 jam hingga 15 tahun tanpa henti dan bisnis ini pun tidak boleh berhenti berproduksi,” pungkasnya. (Ully/Red)

Komnetar anda tentang berita diatas?