CILEGON, SSC – Walikota dan Wakil Walikota Cilegon, Robinsar-Fajar Hadi Prabowo membeberkan program 100 hari kerja kepada organisasi kemahasiswaan di Kota Cilegon lewat kegiatan merdeka bicara. Kegiatan ini digelar di Rumah Dinas Walikota Cilegon, siang tadi.
Dalam Kegiatan itu, perwakilan dari sejumlah organisasi mahasiswa menyampaikan berbagai kritikan hingga masukan kepada Robinsar-Fajar.
Seperti yang disampaikan oleh Presiden Mahasiswa Politeknik Krakatau, Nafisha menyampaikan catatan kepada Robinsar-Fajar. Mulai dari persoalan anak putus sekolah di wilayah Seruni, Kelurahan Kedaleman, Kecamatan Cibeber, kasus pelecehan seksual, kejelasa gedung Dekranasda, pembangunan bank sampah hingga mempertanyakan pembinaan Pemkot Cilegon terhadap UMKM.
“Kami di sini memberikan banyak sekali catatan untuk pemerintah, yang mana ada 12 anak putus sekolah yang harus bekerja untuk membantu keluarga. Seperti apa tanggung jawab pemerintah untuk memberikan kenyamanan kepada mereka?,” kata Nafisha, Kamis (12/6/2025).
Tak hanya Nafisha, hal senada pun ditanyakan oleh perwakilan dari organisasi GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Kota Cilegon, Artanto Ade Putra. Ia juga mempertanyakan soal transparasi penyusunan RPJMD (Rancangan Pembangunan Jangka Menenggah Daerah) Kota Cilegon kepada publik.
Menurutnya, transparasi dalam penyusunan RPJMD kepala daerah tentunya perlu diketahui oleh masyarakat. Sehingga masyarakat pun tahu arah kebijakan dari RPJMD yang disusun Robinsar-Fajar.
“Apakah masyarakat ini hanya dianggap objek saya oleh pemerintah. Semestinya, keterbukaan publik dalam membuat RPJMD pun harus lebih terbuka,” ujarnya.
Tak jauh berbeda yang disampaikan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Cilegon, Rahmat Hidayatullah juga menyampaikan jika pembangunan SDM (Sumber Daya Manusia) di Kota Cilegon dinilainya masih cukup rendah. Hal ini bisa dilihat, dari 200 perusahaan di Kota Cilegon, mayoritas pekerjanya bukan asli masyarakat Kota Cilegon. Melainkan perekrutannya dari masyarakat luar Cilegon. Ini membuktikan, SDM di Kota Cilegon sangat rendah.
“Semestinya dengan banyaknya industri di Cilegon, banyak masyarakat yang bekerja di sana. Namun, kenyataannya SDM di kota cilegon rendah. Pembangunan SDM belum terbangun di Cilegon,” jelas Ade.
Walikota Cilegon, Robinsar mengucapkan terima kasih kepada para mahasiswa yang telah memberikan kritik dan saran untuk pemerintahan Robinsar-Fajar. Menurut Robinsar, kritikan yang disampaikan oleh para mahasiswa ini sangat dibutuhkan sehingga ia dan Fajar bisa membawa Kota Cilegon lebih baik lagi.
“Karena kami sadar tidak bisa menjangkiti semua titik yang ada di kota Cilegon, kami butuh masukan dan masukan kritik itu ketika kami bisa implementasikan akan kami implementasikan. Pada kegiatan ini juga, selain kami mendengar apa yang menjadi aspirasi dari teman, kami ingin mendengar secara langsung apa yang disampaikan oleh mereka,”jelas Robinsar.
Orang nomor satu di Cilegon ini pun memastikan kegiatan merdeka bicara ini bisa dilaksanakan minimal 3 bulan sekali. Ini bertujuan sebagai update informasi dan perkembangan yang sedang trending ketika itu.
Sementara, Wakil Walikota Cilegon, Fajar Hadi Prabowo memastikan masukan yang disampaikan mahasiswa ini akan dijalankan oleh pemerintah tanpa berbenturan dengan aturan yang ada.
“Iya tadi juga ada beberapa mahasiswa tidak hanya bertanya tapi juga memberikan solusi juga. Dari kritikan serta solusi ini kita kaji dan jika tidak berbenturan dengan aturan kita akan aplikasikan. Tapi poinnya kita arahnya sudah kesana tadi kami paparkan juga tapi memang membutuhkan proses , 100 hari juga saya rasa tidak bisa mengentaskan semuanya, tapi niatan dan langkah itu sudah kita perbaiki,” jelas Fajar.
Fajar berharap kegiatan mereka berbicara ini bisa memberikan feedback untuk pemerintah agar lebih baik lagi.
“Kami berharap agenda ini sering dilakukan. Kami (pemerintah) selalu membuka diri dan mendengarkan feadbcak, semua masukan dari teman-teman mahasiswa maupun dan masyarakat Cilegon,” harapnya. (Ully/Red)

