20.1 C
New York
Sabtu, Mei 9, 2026
BerandaKesehatanSekda Maman Mauludin Minta OPD Serius Tangani Stunting di Cilegon

Sekda Maman Mauludin Minta OPD Serius Tangani Stunting di Cilegon

-

CILEGON, SSC – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cilegon, Maman Mauludin segera tegas meminta semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pemerintahan Kota Cilegon untuk lebih serius menangani persoalan shunting di Kota Cilegon. Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon di 2021, angka stunting mencapai 20,6 persen.

“Kalau hanya Dinkes mengatasi saja itu baru 30 persen. Jadi perlu kaloborasi OPD (DP3AKB, Dinkes dan Dinas Sosial) untuk serius tangani persoalan stunting di Cilegon,” kata Maman kepada awak media ditemui pada kegiatan pertemuan konvergensi rencana aksi cegah stunting di salah satu hotel di Kota Cilegon,” Senin (21/3/2022).

Maman menambahkan, dengan penanganan serius dan kerjasama dari OPD terkait otomatis akan mencapi menekan angka tingginya stunting di Cilegon mencapai 70 persen.

“Kalau semua konsen Insa Allah 100 persen bisa mengatasi stunting di tahun depan. Perlu dimaksimalkan kembali persoalan ini. Karena, setiap tahunya, kita (Cilegon) selalu di evaluasi oleh Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI,” tambah Maman.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Cilegon, Ratih Purnamasari hasil data survei status gizi Indonesia di 2021, untuk stunting di Cilegon mengalami penurunan dibandingkan dengan 2019 lalu. Di mana, 2019 angka stunting di Cilegon mencapai 28 persen. Sedangkan di 2021 mencapai 20,6 persen terjadi penurunan 8 persen dibadingkan dengan 2019 lalu.

“Jadi memang kalau hasil survei status gizi Indonesia m, stunting di Cilegon di 2021 turun 8 persen. Semua diharapkan, di 2024 mendatang angka stunting di Cilegon turun menjadi 14 persen se-nasional,” jelas Ratih.

Kata Ratih, pentingnya memberikan perhatian pada periode kehamilan 1000 hari pertama untuk meminimalisir resiko kekurangan gizi.

“Ini pentingnya untuk memberikan perhatian pada periode kehamilan 1000 hari pertama kehidupan untuk meminimalisir resiko kekurangan gizi agar anak tumbuh sehat,” tuturnya.

Ratih juga menyampaikan, bahwa kekurangan gizi sangat mempengaruhi perkembangan, pertumbuhan dan metabolisme hingga anak tumbuh dewasa.

“Kekurangan gizi dapat mempengaruhi hambatan perkembangan kognitif, pertumbuhan dan hambatan metabolisme yang rentan hingga anak tumbuh dewasa. Selain itu, dampak negatifnya adalah kecerdasan produktivitas yang menjadi rendah, tubuh pendek, dan risiko terserang penyakit kronis,” pungkas Ratih. (Ully/red)

Redaksi Selatsunda
Redaksi Selatsundahttps://selatsunda.com
Sajian informasi dikemas dengan tulisan berita yang independen
- Advertisment -DEWAN 2