Tumpukan sampah yang berada di Tambatan perahu nelayan yang berada di Lingkungan Madaksa Sebrang,” Kamis (2/6/2022) Foto Elfrida Ully/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Sampah menumpuk di tambatan perahu nelayan yang berada di Lingkungan Madaksa Seberang, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon. Selain timbul bau menyengat, sebagian perahu nelayan terjebak akibat banyaknya sampah.

Pantauan Selatsunda.com di lokasi, sampah menghampar di tambatan perahu nelayan kurang lebih 100 meter. Air laut pada tambatan tersebut tidak terlihat saking dipenuhi sampah yang didominasi sampah plastik hingga ban bekas. Terlihat pula banyak perahu nelayan berada ditengah-tengah tumpukan sampah.

Tumpukan sampah mulai mengotori Pantai Madaksa, Kelurahan Tamansari,” Kamis (2/6/2022). Foto Elfrida Ully/Selatsunda.com

Salah satu nelayan yang juga warga setempat, Zukni Azkar mengaku kondisi tersebut sudah terjadi kurang lebih 3-4 tahun. Akibat kondisi itu, kata Zukni, perahu miliknya dan nelayan lain terjebak sehingga sulit ditarik ketika hendak mencari ikan.

“Kita mau gerak aja nyari ikan susah mba. Kalau pun mau nyari ikan, kapal harus didorong-dorong. Dorong perahu ini kan gak mudah, perlu tenaga dan waktu juga untuk dorong ini (perahu,red),” kata Zukni kepada Selatsunda.com ditemui dilokasi, Kamis (2/6/2022).

Ia mensinyalir, sampah yang menumpuk di tambatan perahu nelayan berasal dari sampah yang mengalir dari Kali Medaksa ketika banjir air hujan meluap. Ditambah lagi minimnya tempat pembuangan sampah.

“Dulu kan sempat banjir disini (Medaksa,red) akhirnya sampah-sampah disini masuk. Apalagi tidak adanya tempat pembuangan sampah yang tersedia disini,” ungkapnya.

Akibat kondisi tersebut, kata dia, banyak perahu terjebak dan membuat nelayan tidak bisa melaut. Akibat hal itu pula, sebagian nelayan mulai berahlih profesi menjadi kuli bangunan, pekerja proyek bahkan membuka usaha kecil-kecilan untuk dapat bertahan hidup.

“Dulu mah gak seperti ini. Kedalaman sampah masih 1,5 meter dan perahu masih bisa digunakan untuk ke tengah pantai. Tapi, dengan kondisi seperti ini, justru membuat teman-teman nelayan mulai ahli profesi jadi tukang bangunan, kerja proyek agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga mereka,” sambungnya.

Ia mengaku, sampai saat ini belum ada perhatian penuh dari pemerintah setempat dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon untuk menangani persoalan sampah tersebut. Ia berharap kondisi tersebut dapat mendapat perhatian serius.

“Pernah sih dengar ada pemerintah datang untuk ngecek ini tapi hanya foto-foto doang. Tapi realisasinya gak ada. Saya sih mewakili warga di sini, berharap, pemerintah bisa memperhatikan kondisi di kampung kami ini,” harapnya.

Senada dengan Zukni, warga lainya, Abdullah mengatakan, sedikitnya ada sebanyak 87 orang yang berprofesi sebagai nelayan. Akibat kondisi tersebut, kini hampir 20-30 nelayan mulai berubah profesi.

“Total kalau menurut data sih ada 87 nelayan. Tapi yang masi bertahan untuk melaut dengan kondisi ini hanya 57 orang. Sebanyak 20-30 nelayan sudah berubah profesi. Yah mau gimana lagi, kita gak ada tempat dan keahlian lain selain menjadi nelayan. Berharap sih, pemerintah bisa mengeruk kali ini dan mengangkut sampah yang ada di dalam sini,” imbuhnya.

Menanggapi hal ini, Lurah Tamansari Kecamatan Pulomerak, Lutfi mengaku, pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas terkait yakni Dinas LH dan Dinas Perkim untuk mengatasi persoalan sampah yang ada di wilayah tersebut.

“Kita sudah koordinasi dengan pihak dinas agar mengangkut sampah di wilayah ini. Saya tidak tahu kalau kondisi ini sudah lama terjadi karena sebelumnya saya belum menjadi lurah di Tamansari. Tapi, insya Allah sampah di sini akan kami keruk,” pungkasnya. (Ully/Red)